Ada sebuah cerita yang terserak dari sunyinya subuh. Waktu di saat orang kebanyakan masih terlelap, menikmati seruputan pertama dari cangkir kopi, atau kegiatan remeh-temeh lainnya.
Tapi di balik keheningan itu, menjelang pagi juga menyimpan cerita. Satu chapter yang sering disajikan sebagai prologue dari sebuah rangkaian kisah panjang. Sebuah pembuka dari rentetan kesibukan yang memekakkan pikiran.
Showing posts with label berbagi. Show all posts
Showing posts with label berbagi. Show all posts
Monday, August 24, 2015
Monday, August 17, 2015
Yogya vs Moge
Akhir pekan ini, dunia sosmed ramai oleh aksi Elanto, seorang warga Yogya yang dengan berani menghentikan jalannya konvoi rombongan moge. Semua pasti sudah mengetahui kejadiannya, dan apa penyebabnya. Berbagai media mengangkat hal tersebut, ditambah penyebaran yang cepat melalui sosmed. Saya juga tidak terlalu ingin membahas "apa"nya. Saya lebih tertarik pada "mengapa"-nya.
Pilih lah random beberapa orang di jalanan. Tanyakan pada mereka, apa kesan terhadap anak moge? Saya yakin mayoritas akan memberi jawaban yang konotasinya negatif. Songong lah; seenaknya sendiri lah; merasa orang kaya lah (ini topik klasik yang nggak habis-habis -- kecemburuan sosial) dan banyak lagi probabilitas jawaban lainnya.
Pilih lah random beberapa orang di jalanan. Tanyakan pada mereka, apa kesan terhadap anak moge? Saya yakin mayoritas akan memberi jawaban yang konotasinya negatif. Songong lah; seenaknya sendiri lah; merasa orang kaya lah (ini topik klasik yang nggak habis-habis -- kecemburuan sosial) dan banyak lagi probabilitas jawaban lainnya.
Monday, April 06, 2015
"Aah nggak seberapa ini...."
Sekedar berbagi karena ini merupakan kesalahan yang seringkali kita lakukan (ya, saya juga) tapi ternyata berdampak besar.
Tidak jarang kita mengambil/memakai/meminjam barang milik teman tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jumlah/nilainya yang tak seberapa membuat kita berpikir "Aaah cuma segini kok... gak seberapa."
Tapi tahukah teman bahwasanya dari nilai yang tak seberapa itu, jika tidak dibarengi dengan keikhlasan pemilik barang, bisa menjadi ganjalan kita untuk masuk pintu surga nanti?
Tidak jarang kita mengambil/memakai/meminjam barang milik teman tanpa sepengetahuan pemiliknya. Jumlah/nilainya yang tak seberapa membuat kita berpikir "Aaah cuma segini kok... gak seberapa."
Tapi tahukah teman bahwasanya dari nilai yang tak seberapa itu, jika tidak dibarengi dengan keikhlasan pemilik barang, bisa menjadi ganjalan kita untuk masuk pintu surga nanti?
Tiap orang sudah diatur rejekinya masing2. Menambah hak kita dengan
mengurangi hak orang lain, berarti kita sudah melanggar apa yang menjadi
ketentuan/ketetapan YME.
Belum lagi masalah hubungan antar sesama. Pemaafan atas penganiayaan merupakan hak prerogatif mahluk. Tuhan sendiri tidak punya otoritas di dalamnya. Ketika kita mengambil hak orang, sama halnya dengan menganiaya orang tersebut.
Jangan sampai amal ibadah kita yang banyak dan besar2 jadi sia2 hanya karena kesalahan sepele. Sayang kan...
Belum lagi masalah hubungan antar sesama. Pemaafan atas penganiayaan merupakan hak prerogatif mahluk. Tuhan sendiri tidak punya otoritas di dalamnya. Ketika kita mengambil hak orang, sama halnya dengan menganiaya orang tersebut.
Jangan sampai amal ibadah kita yang banyak dan besar2 jadi sia2 hanya karena kesalahan sepele. Sayang kan...
Thursday, October 17, 2013
Just Keep Swimming... Just Keep Swimming...
Pasti pada heran yah, kenapa judul dengan gambar yang ditampilkan kok ndak ada hubungannya. Jadi ceritanya begini, judul itu terinspirasi dari salah satu adegan dalam film animasi Finding Nemo. Persisnya pada scene di mana Dori mengajak Marlin menyelam hingga ke kedalaman yang tidak tercapai sinar cahaya. Gelap. Marlin begitu ketakutan. Dori, sebaliknya, memiliki semangat yang berbeda. Dengan penuh keceriaan dia malah bersenandung "just keep swimming... just keep swimming.." dan mengajak Marlin untuk terus turun.
Friday, November 12, 2010
Mirip Tapi Nggak Pasti...
Sudah lah, nggak usah lagi berkilah dengan "Ini belum tentu dia", atau "Perlu pembuktian yang lebih konkrit" atau "Dia gak ngaku". Melihat sekilas aja udah ketahuan. Struktur muka sama persis, rambut palsu terlihat aneh, perlu apa lagi?
Kadang persoalan sederhana jadi begitu rumit saat masuk dalam ranah argumentasi legal. Sesuatu yang harusnya gampang bisa mengalami pembahasan yang berbelit-belit. Alasannya selalu klise: hukum itu harus berdasarkan fakta yang solid dan tak terbantahkan. Padahal seharusnya bukan itu intinya.
Kadang persoalan sederhana jadi begitu rumit saat masuk dalam ranah argumentasi legal. Sesuatu yang harusnya gampang bisa mengalami pembahasan yang berbelit-belit. Alasannya selalu klise: hukum itu harus berdasarkan fakta yang solid dan tak terbantahkan. Padahal seharusnya bukan itu intinya.
Tuesday, September 14, 2010
Lebaran 2.0
Masih lekat dalam ingatan saya ketika segalanya masih bersifat manual. Setiap menjelang lebaran, saya sudah menyiapkan tumpukan kartu ucapan untuk dikirimkan ke kerabat, handai taulan, si dia (halah, istilah ini katro bener rasanya).
Dalam tiap kartu hanya ucapan standar yang tercantum. Selamat Idul Fitri, 1 Syawal XXXX H; Mohon Maaf Lahir Dan Batin (saya ingatkan, kesalahan ini sering sekali terjadi; penulisan kata sambung dengan huruf besar adalah melanggar kaidah EYD).
Untuk memberi sentuhan pribadi pada kartu tersebut, selain tanda tangan, biasanya saya sertai sedikit tulisan pendek. Semua dilakukan secara tulis tangan. Pesan dalam kartu, tanda tangan, penulisan alamat pengirim dan penerima; semuanya. Meletihkan tapi juga menyenangkan.
Dalam tiap kartu hanya ucapan standar yang tercantum. Selamat Idul Fitri, 1 Syawal XXXX H; Mohon Maaf Lahir Dan Batin (saya ingatkan, kesalahan ini sering sekali terjadi; penulisan kata sambung dengan huruf besar adalah melanggar kaidah EYD).
Untuk memberi sentuhan pribadi pada kartu tersebut, selain tanda tangan, biasanya saya sertai sedikit tulisan pendek. Semua dilakukan secara tulis tangan. Pesan dalam kartu, tanda tangan, penulisan alamat pengirim dan penerima; semuanya. Meletihkan tapi juga menyenangkan.
Monday, August 30, 2010
Tentang Perubahan
"Tak ada yang kekal di dunia ini kecuali perubahan."
...dan saya percaya itu. Perubahan, meski untuk sebagian orang bisa terlihat sebagai hal yang menakutkan, adalah hal yang tak terelakkan. Kadang perubahan itu membawa ke arah yang lebih baik (kondusif), kadang sebaliknya (destruktif). Apa pun itu, perubahan tetap harus dilakukan untuk menjaga konsistensi siklus kehidupan. Begitu juga dengan blog ini.
Friday, August 27, 2010
Kepulan Debu pun Beterbangan
Bahwasanya kejadian di dunia ini terjadi dengan sendirinya, saya percaya itu. Alur cerita dan adegan dalam kehidupan ini mengalir begitu saja. Sebuah skenario besar sudah disiapkan. Kita semua adalah pemainnya. Tanpa naskah, tanpa sinopsis, kita melakoni peran masing-masing dan melakukan apa yang "diperintahkan" tanpa perlu bertanya.
Friday, March 28, 2008
RAY the GIANT

Click image for larger view.
Ray Doodoh,
Saya ketemu dia cuma sebentar. Kebetulan kita satu tim di sebuah biro iklan berlokasi dekat satu sekolah menengah kejuruan di Jakarta yang konon salah seorang alumninya adalah anak mantan orang nomor satu di negeri ini. --> pendahuluan yang nggak penting! :p
Cuma sekitar 3 bulanan kita ketemu. Saya yakin sebagian kaliah mungkin kenal dia lebih lama. Meskipun se-tim, kita megang brand yang beda. Dia pegang merek salah satu penyedia GSM, saya megang tangannya ............ tiiiiiiiiiiiiiit..... (maaf, atas alasan tertentu nama harus dirahasiakan -- halah, makin nggak penting!).
Dalam waktu yang demikian singkat itu, kebetulan sekali kita punya intensitas obrolan yang cukup tinggi. Bukan karena kita langsung akrab, bukan juga saya yang sok akrab. Semata karena keramahan Ray yang bikin siapa pun akan betah ngobrol panjang lebar dengan dia. Kepribadian dia yang hangat cukup bertolak belakang dengan tampang agak galaknya dia yang didukung postur badan cukup besar (saya mungkin hanya 3/5 bagiannya Ray). Makanya dia kita panggil Giant, nama salah satu karakter dalam komik Doraemon.
Satu hal yang saya ingat betul, Ray itu jarang sekali tersinggung, apalagi marah. Bahkan saat namanya kita becandain dengan cara dieja, DE-O-DO... O-DE-O-HA-ODOH... DOODOH. Dia malah ikut-ikut ketawa, padahal kita sering banget ngeledek kaya' gini.
Setelah pisah kantor, kita kadang masih kontek-kontekan (kalau katanya Cinta Laura mungkin... keep in touch). Dari komunikasi yang terjalin lewat kotak ngobrol (chat box) itu saya makin tahu karakter Ray. Dia sama sekali nggak pernah mau ngomongin kejelekan orang. Bahkan orang yang udah terkenal jelek sekalipun. Padahal jelek itu absolut ya, cakep baru relatif --- huhuhuhu, pasti pada komplen karena postingan ini makin crispy.
Hingga akhirnya saya dengar kabar kalau Ray didiagnosa mengidap leukimia. Saat itu dia bahkan sempat mendapat perawatan intensif. Saya kaget sekali mendengar berita itu. Sebagai teman, saya saat itu mendoakan supaya Ray cepat sembuh.
Alhamdulillah, selang beberapa bulan, YM-nya Ray nyala lagi. Kita pun kembali terhubung. Dengan keramahan yang sama, semangat yang sama, dia menceritakan sekilas pengalamannya semasa dalam perawatan. Nggak ada keluhan, nggak ada kesedihan. Ray, ternyata punya jiwa yang besarnya melebihi ukuran badannya yang udah segede Gaban itu.
Karena kesibukan masing-masing, kita makin jarang berkomunikasi. Saya bahkan nggak sadar kalau id YM Ray sudah lama sekali tidak aktif. Sampai suatu ketika ada kesempatan ngelongok blognya Glenn. Dalam salah satu postingannya, Glenn cerita soal Ray yang ternyata kondisinya kembali melemah. Dokter menyarankan untuk melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang (kalau salah, mohon dibetulkan, saya juga tidak paham benar), itu pun untuk mendapatkan peluang sembuh 50%.
Dari cerita mereka yang masih intens berhubungan dengan Ray, semangat Ray nggak pernah surut. Apa pun dan bagaimana pun caranya, dia akan terus berusaha meraih kesembuhan itu. Bukan buat dirinya sendiri, tapi juga demi Linda (istrinya) dan demi 2 buah cintanya; Davina & Samuel.
Dalam waktu dekat, transplantasi akan segera dilakukan. Mari sama-sama kita doakan supaya Tuhan memberi yang terbaik untuk Ray dengan mengembalikan kesehatan dia seperti semula.
"Ray, jangan pernah patah semangat ya. Gue tahu, elo nggak akan pernah menyerah. Simply because you are the Giant. Our beloved Giant.
Cepet sembuh bro..."
Thursday, March 20, 2008
Gadis Di Gerbong Kereta Itu Bernama Yani

Siang itu, perjalanan dari Kota menuju Tebet, saya memutuskan untuk naik kereta api. Pertimbangannya jelas, lebih ekonomis, nyaman (pakai AC) dan bebas macet (sebuah masalah klasik yang tetap saja selalu bikin sakit kepala saat harus terjebak di tengah-tengahnya).
Ternyata nasib berkehendak lain. Kereta AC yang tiketnya sudah saya beli, baru akan datang 45 menit lagi. Saya nggak punya kemewahan untuk membuang waktu menunggu selama itu. Saya pun memilih naik kereta yang sudah siap berangkat, kelas ekonomi non-AC.
Selama perjalanan, duduk di seberang saya, arah jam 2, seorang bapak dengan anaknya. Pita penjepit rambut yang tersemat di kepalanya jelas menunjukkan ia seorang anak perempuan.
Sepanjang perjalanan, anak itu tetap terlihat begitu menikmati pemandangan lewat pintu gerbong yang selalu menganga lebar. Saat seorang penjaja jeruk lewat, anak itu meminta bapaknya untuk membeli satu buah. Sang bapak memilih, membayar dan lantas memberikan jeruk pada anaknya. Senyum lebar sang anak jelas menunjukkan kebahagiaannya. Dikupasnya jeruk itu dan dinikmatinya gigitan demi gigitan.
Tidak ada yang istimewa memang dari scene tersebut. Adalah lumrah jika seorang bapak sayang pada anaknya. Yang membuat moment itu jadi istimewa adalah saat saya memberanikan diri berbincang dengan bapak tersebut.
Suhandi nama bapak itu. Putri tercintanya bernama Yani, 7 tahun. Pada umur 4 tahun, sebuah benjolan kecil tumbuh di wajah Yani. Benjolan itu membesar hingga seperti sekarang. 6 bulan lalu, pak Suhandi memeriksakan Yani ke RS Cipto. Berkat fasilitas Askeskin, dia tak harus terbebani biaya pengobatan. Tapi kenyataan pahit harus dia hadapi. Menurut analisa dokter, jika tindakan operasi dilakukan, bisa membawa kebutaan total bagi Yani. Bagai makan buah simalakama, pak Suhandi pun tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Percakapan terhenti karena kereta telah berhenti di setasiun tujuan saya. Dengan meminta ijin terlebih dahulu, saya bergegas memotret Yani dan bapaknya.
Dalam mikrolet, sebuah pikiran negatif melintas dalam kepala saya, "Mungkinkah diagnosa dokter itu ala kadarnya karena faktor ketidakmampuan pak Suhandi menanggung biaya pengobatan?". Ah entah lah, lebih baik berpikiran positif dengan menganggap bahwa dokter itu telah melakukan pertolongan semaksimal yang dia mampu.
Saya lantas berandai-andai, "Mungkin nggak kalau ada pihak yang mau mendanai pemeriksaan Yani secara lebih layak? Bisakah hasil diagnosa dokter yang dibayar sesuai rate normal bisa memberi kemungkinan yang lebih baik?"
Oh ya, saya masih belum menceritakan hal yang membuat peristiwa di gerbong tadi jadi begitu istimewa buat saya. Sederhana sekali. Kebahagiaan pak Suhandi berjalan-jalan dengan putrinya begitu wajar. Kondisi yang dihadapi Yani tidak membuat pak Suhandi seakan minta dikasihani. Mereka pun tak peduli dengan tatapan penuh kasihan beberapa orang dalam gerbong itu saat melihat Yani.
Aaah begitu menyejukkan. Kebahagiaan memang hanya masalah mindset. Itu pilihan dan kita sendiri yang menentukan. Terima kasih pak Suhandi dan Yani, atas makna berharga yang bahkan kalian sendiri tidak sadar telah mengajarkannya pada orang lain.
PS
Jika ada yang bisa membantu, pak Suhandi bisa dihubungi di alamat berikut:
Pondok Gede/Pondok Melati
Gg. Sasak Jikin No.9
RT02 RW05
Atau bisa dihubungi lewat telepon adik iparnya, Riswandi di nomor 9889-7848
Friday, February 08, 2008
Terimakasih Faceboook
Masih ingat dengan keribetan dari request-request dan invitations di facebook saya?
Masalah terselesaikan. Sebenarnya solusi ini sudah lama muncul tapi baru sempet di-post (maafkan atas keleletan saya meng-update blog).
Dan inilah solusinya....
(SFX: jeng jeng - seperti suara Windows 3.11 waktu start up).
Masalah terselesaikan. Sebenarnya solusi ini sudah lama muncul tapi baru sempet di-post (maafkan atas keleletan saya meng-update blog).
Dan inilah solusinya....
(SFX: jeng jeng - seperti suara Windows 3.11 waktu start up).
Wednesday, January 23, 2008
Mau Apdet Tapi Gaptek

Atas usulan beberapa teman, saya disarankan punya account di facebook. Sekitar dua bulan sempat tidak saya hiraukan, tapi akhirnya penasaran. Biar nggak so last year, buru-buru bikin.
Dasar gaptek facebook, nggak sempet mempelajari, account saya terlantar. Seorang teman bahkan begitu marahnya saat tahu saya punya facebook tapi nggak nge-add dia. Padahal saya emang bener-bener awam masalah per-facebook-an ini. Buktinya, total 300-an invitation/request/notification tidak pernah saya urus.
Satu jam sudah terpakai untuk membuang satu persatu daftar invitation/request yang berderet panjang. Walhasil scroll bar di sisi kanan cuma bergeser 3 mm.
Saya menyerah!
Ada yang tau gimana cara menghilangkan undangan-undangan itu secara kolektif?
(Kalau saja bisa select all terus didelete... -sigh-)
Friday, January 11, 2008
Halo...

Hi... apa kabar? Lama nggak ketemu.
Hampir pangling... padahal mukamu nggak banyak berubah.

Sisi-sisimu tetap kaya' dulu.
Tapi... terakhir ketemu banyak kerumunan orang berdiri.
Salah satunya pasti copet.
Kalau pengamen aku langsung tahu.
Biasanya bawa gitar, kecrekan dari tutup botol atau yang sekedar nyanyi beriring tepuk tangan.
Kantong uang dari bungkus permen jadi penutup reportoir.

Kali ini beda.
Terasa lebih senyap.
Hm... pasti karena menjelang senja, apalagi sekarang hari libur Tahun Baru Islam.
Terakhir jumpa, statusku masih mahasiswa.
Pertemuannya pun tak sengaja.
Karena tertidur, setasiun kampusku jadi terlewati.
Kuputuskan untuk balik naik angkot. Cukup bayar cepek karena harga karcismu lima ratus perak.

Kali ini aku bawa buntut dua.
Yang satu ganteng, yang satu cantik.
Tapi pasanganku tetap sama. Iya, dulu pacar, sekarang istri.
Sayang lagi noleh, mukanya kamu nggak bisa lihat.
Jangan khawatir karena aku masih akan sering ngunjungi kamu.
Kangenku belum hilang.
Sampai ketemu ya...
Monday, November 19, 2007
SMP Gratis!
Pesan dari seorang teman.
"Jika tidak berkeberatan, tolong sebarkan info berikut..
Jika anda mengenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770 telp. 7990412 HP. 085691500258, Untuk selanjutnya akan disurvei.
Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu .. "
Benar tidaknya bukan merupakan tanggung jawab pemilik blog. Saya hanya merasa perlu untuk membantu dalam penyebarluasannya
"Jika tidak berkeberatan, tolong sebarkan info berikut..
Jika anda mengenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770 telp. 7990412 HP. 085691500258, Untuk selanjutnya akan disurvei.
Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu .. "
Benar tidaknya bukan merupakan tanggung jawab pemilik blog. Saya hanya merasa perlu untuk membantu dalam penyebarluasannya
Thursday, December 22, 2005
Doa Sebelum Makan

Image dipinjem dari gettyimages.com.
Tuhan… kami sadar, saat ini situasi memang sedang tak stabil. Ekonomi dan politik negara semrawut, wakil rakyat tak lagi peduli, bisnis naik turun, banyak kawan yang terkena PHK, beragam lagi masalah lainnya.
Meskipun hidup kami sedang susah, harga bahan bakar, sembako, gas serta semua kebutuhan pokok naik… tapi kami yakin, cobaan ini adalah ujian bagi kami. Semoga hari esok bisa lebih baik.
Oh satu lagi Tuhan, tolong bantu saudara kami di Yakuhimo.
Amin.
Tuesday, November 29, 2005
Empathy
Empathy. Sebuah kata sederhana sarat makna. Suatu hal yang lebih mudah untuk diterjemahkan ketimbang dilaksanakan. Ketika ego bertemu ego, empathy adalah jembatan untuk mencari kesamaan yang bisa menyatukan perbedaan.
Banyak pelajaran dari sejarah yang bisa kita petik akibat kesemau-guean individu. Saat masing-masing pihak bersikeukeuh dengan prinsipnya, kecenderungan yang akan terjadi berikut adalah munculnya karakter superioritas yang membuat kita merasa lebih dari yang lain. Kebenaran absolut adalah kebenaran menurut kita. Kebenaran yang lain hanya kebetulan semata (itu juga jika kita berusaha merendahkan hati untuk tidak mengatakannya sebagai sebuah kesalahan).
Hilangnya empathy bisa diwujudkan dalam banyak hal. Salah satu contoh adalah ulasan dalam buku "Men are from Mars, women from Venus". Saat kita coba menggali lebih dalam, akar permasalahannya biasanya sepele. Ketidak-inginan untuk bisa berusaha mengerti sebab dari perbedaan. Mengerti makna perbedaan sendiri adalah jauh lebih berharga ketimbang hanya menerimanya.
Dalam keseharian, krisis empathy ini bisa begitu kental terlihat. Perwujudannya bisa macam-macam. Dalam kalimat mungkin bisa dikejawantahkan seperti berikut:
1. Ah, lo gak kenal gue.
2. Susah ya ngertiin hal sepele kaya' gini?
3. Elo selalu ngulangin kesalahan yang sama!
4. Klien bego!
5. dll. --> senjata jitu saat malas mencari contoh :p
Secara tidak kasat mata... saat kita mengorbankan empathy, saat itu lah indera-indera kita tertutup dari sensitifitas akan kemungkinan kebenaran lain yang bisa saja muncul dari arah yang tidak kita duga. Semata mungkin karena jadi hal yang berat bagi kita, untuk bisa menerima bahwa kita juga punya potensi untuk salah.
Buka mata, buka telinga... kini sudah jadi paritas. Saatnya untuk membuka hati dan melihat dengan mata batin, mendengar dengan telinga batin.
Watch not only see, listen not only hear.
Semuanya tergantung kita.
Banyak pelajaran dari sejarah yang bisa kita petik akibat kesemau-guean individu. Saat masing-masing pihak bersikeukeuh dengan prinsipnya, kecenderungan yang akan terjadi berikut adalah munculnya karakter superioritas yang membuat kita merasa lebih dari yang lain. Kebenaran absolut adalah kebenaran menurut kita. Kebenaran yang lain hanya kebetulan semata (itu juga jika kita berusaha merendahkan hati untuk tidak mengatakannya sebagai sebuah kesalahan).
Hilangnya empathy bisa diwujudkan dalam banyak hal. Salah satu contoh adalah ulasan dalam buku "Men are from Mars, women from Venus". Saat kita coba menggali lebih dalam, akar permasalahannya biasanya sepele. Ketidak-inginan untuk bisa berusaha mengerti sebab dari perbedaan. Mengerti makna perbedaan sendiri adalah jauh lebih berharga ketimbang hanya menerimanya.
Dalam keseharian, krisis empathy ini bisa begitu kental terlihat. Perwujudannya bisa macam-macam. Dalam kalimat mungkin bisa dikejawantahkan seperti berikut:
1. Ah, lo gak kenal gue.
2. Susah ya ngertiin hal sepele kaya' gini?
3. Elo selalu ngulangin kesalahan yang sama!
4. Klien bego!
5. dll. --> senjata jitu saat malas mencari contoh :p
Secara tidak kasat mata... saat kita mengorbankan empathy, saat itu lah indera-indera kita tertutup dari sensitifitas akan kemungkinan kebenaran lain yang bisa saja muncul dari arah yang tidak kita duga. Semata mungkin karena jadi hal yang berat bagi kita, untuk bisa menerima bahwa kita juga punya potensi untuk salah.
Buka mata, buka telinga... kini sudah jadi paritas. Saatnya untuk membuka hati dan melihat dengan mata batin, mendengar dengan telinga batin.
Watch not only see, listen not only hear.
Semuanya tergantung kita.
Monday, October 31, 2005
Apalah Arti Sebuah Nama
"What's in a name?". Sebuah phrase dari seorang pujangga Istris terkenal, Shakespeare. Ketika kedekatan menjadi begitu mengikat, saat pikiran telah menyatu, sebuah embel-embel nama menjadi tak begitu penting lagi.
Tapi kalau kita berkaca pada sejarah, maka nama bukan lagi hal yang tak penting. Semua berkaitan dengan nama. Bagian yang bisa dikenang adalah nama (selain dari perilaku tentunya). Gadjah Mada menjadi sebuah hal yang jauh lebih bermakna ketimbang kita mengganti penyebutannya dengan "seorang patih yang berbekal keteguhan itikad berjanji untuk tidak lagi makan buah palapa; buah yang konon sangat nikmat di masa itu; sebelum bersatunya tanah air.
Lompat ke masa perjuangan, ratusan pahlawan perjuangan kita kenal dengan namanya. Ribuan bahkan seolah "mati sia-sia" karena namanya tercantum tak lebih hanya sebuah ukiran di batu nisan. Belum lagi jutaan "nama-nama" yang tak sempat ambil bagian dalam proses pencatatan sejarah karena jabatannya yang disandangnya saat berjuang bukanlah jabatan elit.
Proklamasi mencatat dua nama yang tak kalah abadinya. Soekarno-Hatta. Duo founding fathers yang akan dikenang sepanjang masa sebagai proklamator bangsa Indonesia. Turut serta di belakangnya W.R. Soepratman sebagai penggugah lagu kebangsaan Indonesia Raya serta ibu Fatmawati yang menjahit bendera kebangsaan yang pertama kali dikibarkan.
Saat era orde baru, peran nama menjadi begitu berharga. Temannya si "Anu", keluarganya si "Itu", anaknya si "Fulan", keponakannya si "Situ". Atribut nama bisa menjadi begitu berkuasa. Edi Tanzil berhasil membobol harta negara berkat surat sakti dengan nama seorang petinggi militer tertera di atasnya. Banyak anak begitu membanggakan nama belakangnya (biasanya diambil dari nama bokap). Dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.
Daftar ini akan terus bertambah panjang dan jadi lebih panjang seiring perkembangan sejarah. Ribuan bahkan jutaan nama akan kembali ditoreh dalam catatan kehidupan dunia ini. Semua sisi kehidupan tak lepas dari nama. Bahkan dalam industri periklanan. Nama jadi begitu penting. Orang akan tertawa mengekek saat ada yang bertanya "Subiakto siapa ya?" atau "Emang Budiman ngetop ya?" atau "Triawan? Hm... sounds familiar, tapi gak gitu jelas". Banyak nama terpatri dalam ratusan lembar penghargaan untuk hasil karya iklan terbaik. Sampai di sini, masih patutkah kita bertanya "Apalah arti sebuah nama?".
Dibalik semua ketenaran dan kegemerlapan atas sebuah nama, saya cuma mau mengatakan bahwa saya meletakkan nilai seorang manusia lebih dari sekedar nama. Bukannya saya menafikan makna sebuah nama, tapi be realistic aja lah. Begitu banyak nama yang harus diingat sementara kapasitas otak nggak terlalu mumpuni. Apalagi untuk orang seperti saya yang memiliki nama paritas (baca pasaran; red.). Tapi satu hal yang pasti, saya nggak akan lupa dengan wajah. Jadi suatu saat, jika kita berpapasan dan kemudian saya menegur dengan "eh" atau "oy" atau "coy", yakinlah bahwa saya tidak melupakan Anda. Tidak sedikitpun. Saya hanya lupa nama Anda.
Tapi kalau kita berkaca pada sejarah, maka nama bukan lagi hal yang tak penting. Semua berkaitan dengan nama. Bagian yang bisa dikenang adalah nama (selain dari perilaku tentunya). Gadjah Mada menjadi sebuah hal yang jauh lebih bermakna ketimbang kita mengganti penyebutannya dengan "seorang patih yang berbekal keteguhan itikad berjanji untuk tidak lagi makan buah palapa; buah yang konon sangat nikmat di masa itu; sebelum bersatunya tanah air.
Lompat ke masa perjuangan, ratusan pahlawan perjuangan kita kenal dengan namanya. Ribuan bahkan seolah "mati sia-sia" karena namanya tercantum tak lebih hanya sebuah ukiran di batu nisan. Belum lagi jutaan "nama-nama" yang tak sempat ambil bagian dalam proses pencatatan sejarah karena jabatannya yang disandangnya saat berjuang bukanlah jabatan elit.
Proklamasi mencatat dua nama yang tak kalah abadinya. Soekarno-Hatta. Duo founding fathers yang akan dikenang sepanjang masa sebagai proklamator bangsa Indonesia. Turut serta di belakangnya W.R. Soepratman sebagai penggugah lagu kebangsaan Indonesia Raya serta ibu Fatmawati yang menjahit bendera kebangsaan yang pertama kali dikibarkan.
Saat era orde baru, peran nama menjadi begitu berharga. Temannya si "Anu", keluarganya si "Itu", anaknya si "Fulan", keponakannya si "Situ". Atribut nama bisa menjadi begitu berkuasa. Edi Tanzil berhasil membobol harta negara berkat surat sakti dengan nama seorang petinggi militer tertera di atasnya. Banyak anak begitu membanggakan nama belakangnya (biasanya diambil dari nama bokap). Dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.
Daftar ini akan terus bertambah panjang dan jadi lebih panjang seiring perkembangan sejarah. Ribuan bahkan jutaan nama akan kembali ditoreh dalam catatan kehidupan dunia ini. Semua sisi kehidupan tak lepas dari nama. Bahkan dalam industri periklanan. Nama jadi begitu penting. Orang akan tertawa mengekek saat ada yang bertanya "Subiakto siapa ya?" atau "Emang Budiman ngetop ya?" atau "Triawan? Hm... sounds familiar, tapi gak gitu jelas". Banyak nama terpatri dalam ratusan lembar penghargaan untuk hasil karya iklan terbaik. Sampai di sini, masih patutkah kita bertanya "Apalah arti sebuah nama?".
Dibalik semua ketenaran dan kegemerlapan atas sebuah nama, saya cuma mau mengatakan bahwa saya meletakkan nilai seorang manusia lebih dari sekedar nama. Bukannya saya menafikan makna sebuah nama, tapi be realistic aja lah. Begitu banyak nama yang harus diingat sementara kapasitas otak nggak terlalu mumpuni. Apalagi untuk orang seperti saya yang memiliki nama paritas (baca pasaran; red.). Tapi satu hal yang pasti, saya nggak akan lupa dengan wajah. Jadi suatu saat, jika kita berpapasan dan kemudian saya menegur dengan "eh" atau "oy" atau "coy", yakinlah bahwa saya tidak melupakan Anda. Tidak sedikitpun. Saya hanya lupa nama Anda.
Thursday, October 27, 2005
Ajal

Acknowledge: image dipinjem dari GettyImages.com.
Dalam kepercayaan Islam, ajal diyakini sebagai salah satu perkara yang menjadi otoritas penuh sang Maha Kuasa. Jika waktu telah tiba, tak ada yang dapat mengelak. Kapan dan bagaimana dia memanggil, tak ada yang tahu. Dengan kata lain, mustinya kita benar-benar nggak akan bisa mengerti kapan kita akan berangkat. Bukan begitu bukan? (agak susah ya jawabnya hihihi...).
Pagi ini, Kamis 27 Oktober 2005, sekitar pukul 7.35, kakak dari ayah saya wafat. Satu malam sebelumnya (semalam), kembali saya harus melalui hal-hal yang saya nggak ngerti. Nggak tauk kenapa, semalam itu saya nggak bisa tidur. Perasaan saya kosong. Rasa takut begitu menyelimuti, tapi nggak jelas takut sama apa atau sama siapa. Tidak ada firasat sedikitpun, kecuali saya tiba-tiba kepikiran sama om saya (almarhum) yang kabarnya sedang sakit. Biasa lah, orang udah tua, sakit-sakit dikit mah jamak. Pagi ini, ketika saya siap-siap berangkat ke kantor, berita itu datang. Di antara rasa sedih, terselip sedikit kebahagiaan. Akhirnya dia bisa bertemu dengan penciptanya.
Saat melayat, ketika kami ngobrol-ngobrol dengan sepupu saya (anaknya almarhum), ternyata beliau seminggu sebelumnya pernah bilang kalau dia nggak akan bisa bertahan sampai hari Jum'at. Sebulan sebelumnya, beliau pernah berkunjung ke rumah bokap dan ngobrol-ngobrol. Waktu itu dia juga sempat bilang kalau dia paling tinggal sebulan lagi.
Tentu banyak yang pernah mengalami hal-hal tak lazim seperti ini. Kalau begitu ajal atau kematian ini bukan lagi hal yang confidential dong ya? Jika kita nantinya bisa mendapat firasat kapan kita akan berangkat, apa nggak berarti kita sudah bisa "mempersiapkan" bekal? Atau bahkan berupaya men-delay keberangkatan?
Sejuta pertanyaan melintas tanpa jawaban. Saya pun termenung. Daripada mencoba mencari jawaban yang nyaris mustahil itu, mending dilempar ke forum. Kali-kali ada yang bisa jawab.
Tuesday, October 25, 2005
Keseimbangan

Acknowledge: gambar dipinjam dari Masterfile.com.
Hampir segala sesuatu yang ada di dunia ini berada dalam keseimbangan. Masing-masing memiliki pasangannya. Besar-kecil, pendek-tinggi, laki-perempuan, siang-malam, dll. Satu melengkapi yang lainnya. Besar akan tampak besar jika memiliki pembanding yang kecil. Pemain basket jadi keliatan biasa aja karena semua rata-rata pada jangkung (coba pemainnya berdiri di sebelah gw hihihi). Primus jadi gak keliatan terlalu cakep jika saya ada di sebelahnya (gak boleh komplen weks hihihihi).
Melihat isi berita koran Kompas beberapa minggu belakangan ini juga sepertinya begitu. Masing-masing komponen isi koran dengan konten dan konteks yang beragam, berdampingan satu sama lain berusaha mengisi keseimbangan. Iklan tactical menyeimbangan iklan tematik (maaf, istilahnya terlalu ngiklan). Lowongan pekerjaan membuat berita-berita pehaka jadi tak terlalu tampak buruk.
Sebagian wakil rakyat dalam hal ini juga nggak mau ketinggalan. Saat berita-berita mengenai meningkatnya jumlah penduduk miskin di Indonesia makin marak; ditambah insiden-insiden yang muncul akibat "niat baik" pemerintah menyalurkan BLT (bantuan langsung tunai apa bolot sih kepanjangannya? gw masih bingung); membuat mereka mengambil inisiatif untuk menyeimbangkan kondisi ini. Muncullah ide untuk menambah pendapatan dari para wakil rakyat sebesar Rp 10 juta/bulan. So... berita-berita mengenai kemiskinan bisa diimbangi dengan meningkatnya kesejahteraan para anggota dewan.
Jadi jangan terlalu berburuk sangka. Sebenarnya tujuan mereka itu baik (barangkali). Karena jika tidak ada berita penyeimbang, bisa dibayangkan reaksi psikologis masyarakat yang setiap hari harus didera-dera informasi ngebete-in seperti harga BBM naik, harga sembako melonjak, meningkatnya angka pengangguran, meningkatnya kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika, dll; sehingga segala sesuatunya bisa tetap berada dalam keseimbangan.
PS.
Postingan ini juga upaya dari penyeimbangan atas kekesalan & kebencian akan praktek pembodohan masyarakat yang dilakukan oleh oknum2 yang tak kalah bodoh di kawasan Senayan. Kapan sembuhnya sih negara ini? Sigh....
Monday, September 05, 2005
Pengamen Itu... MENGAGUMKAN
Suatu pagi di sebuah tempat yang gak penting, terjadi percakapan antara 2 orang yang gak penting juga... pengamen berusia sekitar 50-an dan saya.
"Biasanya bareng istri ngamennya...?"
"Lagi sakit mas, di rumah."
Selanjutnya hening sejenak. Saya ragu-ragu, mau ngajak ngobrol tapi takut salah ngomong. Akhirnya dia sendiri yang melanjutkan percapakan. Kemudian topik beralih ke bidang yang digelutinya.
"Udah lama ngamennya pak?"
"Sudah dari 76 mas. Yah namanya pengamen, penghasilan gak bisa dipastiin. Yang penting halal."
"Kalo ngamen di mana aja pak?"
"Saya cuma di perumahan aja mas. Ngapain ngamen di bis, di toko-toko... berisik. Mending di perumahan kaya' gini. Itu juga nggak semua rumah saya datengin. Paling yang udah langganan aja."
"Emang kalo berisik kenapa? Kan dibayar juga?"
"Gini lho... saya ini ngamen gak cuma sekedar ngamen. Kalo orang gak bisa denger saya ngamen trus ngasih duit, kan sama aja bohong. Mending kaya' gini. Orang bisa denger nyanyian saya, kalo terhibur ngasih duit."
"Oooh gitu..."
"Saya juga prihatin mas kalo liat pengamen-pengamen yang suka maksa gitu. Nggak dikasih duit marah-marah. Kita kan ngamen nggak diundang. Kita dateng harus sopan, kalo orang terganggu ya itu risiko. Kita gak boleh marah dong."
"Bener pak..."
"Namanya rejeki sih nggak bisa dipaksa. Yang penting kita sopan, orang terhibur. Kita senang, orang juga senang."
Hm... benar-benar luar biasa pengabdian bapak pengamen ini. Kalo dia kerja di biro iklan, kaya' apa ya hasilnya? Mungkin akan menghasilkan sesuatu yang lebih bagus dari yang sudah saya perbuat. Hiks...
"Biasanya bareng istri ngamennya...?"
"Lagi sakit mas, di rumah."
Selanjutnya hening sejenak. Saya ragu-ragu, mau ngajak ngobrol tapi takut salah ngomong. Akhirnya dia sendiri yang melanjutkan percapakan. Kemudian topik beralih ke bidang yang digelutinya.
"Udah lama ngamennya pak?"
"Sudah dari 76 mas. Yah namanya pengamen, penghasilan gak bisa dipastiin. Yang penting halal."
"Kalo ngamen di mana aja pak?"
"Saya cuma di perumahan aja mas. Ngapain ngamen di bis, di toko-toko... berisik. Mending di perumahan kaya' gini. Itu juga nggak semua rumah saya datengin. Paling yang udah langganan aja."
"Emang kalo berisik kenapa? Kan dibayar juga?"
"Gini lho... saya ini ngamen gak cuma sekedar ngamen. Kalo orang gak bisa denger saya ngamen trus ngasih duit, kan sama aja bohong. Mending kaya' gini. Orang bisa denger nyanyian saya, kalo terhibur ngasih duit."
"Oooh gitu..."
"Saya juga prihatin mas kalo liat pengamen-pengamen yang suka maksa gitu. Nggak dikasih duit marah-marah. Kita kan ngamen nggak diundang. Kita dateng harus sopan, kalo orang terganggu ya itu risiko. Kita gak boleh marah dong."
"Bener pak..."
"Namanya rejeki sih nggak bisa dipaksa. Yang penting kita sopan, orang terhibur. Kita senang, orang juga senang."
Hm... benar-benar luar biasa pengabdian bapak pengamen ini. Kalo dia kerja di biro iklan, kaya' apa ya hasilnya? Mungkin akan menghasilkan sesuatu yang lebih bagus dari yang sudah saya perbuat. Hiks...







