Pages

Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Tuesday, June 03, 2008

Keluargaku, Keluargamu, Keluarga Kita



Sudah hadir layanan penyusunan silsilah keluarga di dunia maya. Nggak perlu pusing-pusing lagi menyusun, cukup bikin akun, undang keluarga, voila. Semua muncul dalam satu halaman. Keuntungan lainnya, layanan ini secara otomatis langsung menghubungkan akar satu keluarga besar dengan keluarga lainnya (keluarga suami dan istri misalnya).

Tapi hati-hati dalam mengisi bio data. Masukan data yang kita berikan sangat rentan digunakan untuk kejahatan dunia maya (cyber crime). Tanggal, bulan, tahun kelahiran kita dan nama gadis ibu bisa jadi modal para penjahat untuk menguras kartu kredit.

Mari ramai-ramai memajang silsilah keluarga!

Friday, February 29, 2008

Drum Band SD Mexico Strikes Back


Darunnajah 5th Marching Band Competition
Istora Senayan, 23-24 Februari 2008

Kategori Junior Pianika, drumband SD Mexico berhasil jadi juara umum (alhamdulillah). Bahkan dapat kesempatan tampil ke-2 kali pada acara penutupan.

Piala-piala yang berhasil digondol:

JUARA 1:
- Field Commander
- Field Majorette
- Solo Percussion
- Busana Field Commander
- Busana Color Guard
- Busana Tim
- Music Analysis ....... (? gak ketangkep jelas)
- Music Analysis Percussion (?... tauk bener apa nggak)
- Color Guard (gerakannya, kalau yg di atas... pakaiannya)
- General Effect
- Keseluruhan (JUARA UMUM)

JUARA 2:
- Solo Pianika
- Display

And if you wonder how amazing these kids can be, just take a look at the footage. Click here to see pictures and here to watch videos.


Sneak peek:




Friday, January 11, 2008

Biar Bekas Asal Nyaman


Ini dia kereta api bar-lam (baru tapi lama). Ekonomi AC yang konon katanya boleh beli sisa dari negeri Matahari Terbit. Di sana sudah nggak terpakai, jual murah (mungkin murah lho ya...) dengan kualitas masih sangat layak guna. Per di beberapa jok kursinya mungkin sudah tak selentur waktu masih baru, tapi tetap saja jauh lebih manusiawi ketimbang kelas ekonomi yang non-AC (saya nggak sempet ngambil fotonya, takut HP kecopet nanti).

Mungkin sebagian kita menganggap adalah sebuah langkah bijak menggunakan barang sisa yang masih layak pakai. Nggak perlu keluar biaya banyak. Sebuah pola pikir yang bisa menjelaskan kenapa transaksi barang bekas di negeri ini begitu marak. Mulai onderdil, baju, elektronik, dll.

Saya tidak menyalahkan pandangan ini. Cuma mbok ya prihatin sedikit opo'o. Kalau mental kita terbiasa untuk nerima barang bekas terus, apa nggak makin terbelakang bangsa ini? Makin ogah mikir untuk melakukan inovasi-inovasi. Nunggu, nunggu dan terus menunggu. Produsen kereta bekas yang masih kita nikmati ini mengalami tragedi terbesar dalam sejarahnya, hanya berselang 8 hari dari tanggal kita memproklamirkan kemerdekaan. Lihat sekarang, kita menggunakan barang bekas mereka. Plis deh... (minjem istilah gaul masa kini).

Ah sutra lah. Buat apa berpanjang lebar. Belum tentu bisa memberi solusi. Mending nikmati saja. Dengan harga karcis Rp 6.000,-; empat kali lipat dari harga karcis ekonomi biasa; anak saya bisa mendapat kenyamanan yang nilainya berkali-kali lipat lebih nikmat ketimbang sumpeknya berdesak-desakan dengan kerumunan. Keringetan, bikin bau badan pula.

Biarin bekas, asal nyaman.


Friday, December 28, 2007

60 Amazing Kids


Sekitar 60 anak bermain hari itu. Ya, buat mereka arena pertandingan itu adalah area permainan. Mereka menari, berjoget, membunyikan alat musik, memukul perkusi... semua tak lebih demi sebuah permainan. Permainan yang mereka mainkan dengan penuh kesenangan, dengan penuh semangat. Bukan untuk mencari juara, bukan pula demi sebuah piala. Mereka bermain-main, hanya bermain.

Latihan yang telah dijalani 3 bulan seolah tak membebani. Kekhawatiran untuk kalah, ketakutan untuk salah, sama sekali tak tampak. Semua jerih payah dan upaya, buat mereka bukan batasan. Mereka cuma ingin bermain. Hanya bermain.

Nggak ada grogi maupun kecemasan karena ditonton oleh ratusan pasang mata. Nggak juga ada ketegangan karena harus berkompetisi dengan 10 peserta lainnya. Embel-embel jabatan presiden di piala yang akan diperebutkan pun nggak berpengaruh buat mereka.

Tiup pianikamu nak. Bunyikan beliramu. Pukul perkusi itu. Mainkan nadamu. Nada-nada yang sudah berminggu-minggu kau latih. Gerakkan badanmu, kibarkan benderamu, ikuti lagunya. Kalian hadir bukan untuk berkompetisi, kalian hadir untuk menghibur. Karenanya, hiburlah kami. Hiburlah otak-otak berkarat yang kian lama kian rindu dengan imajinasi spontanitas ini. Siram jiwa yang kering ini dengan kemurnian kalian. Kemurnian senyuman yang muncul dari rasa senang penuh kejujuran, bukan sekedar bermaniswajah.

Di situ.. ya di dalam dada itulah dunia kalian. Dunia yang tak terbatas, bukan gedung berdinding beton seukuran lapangan basket ini. Dunia kalian jauh lebih luas dari itu. Hadirkan dunia kalian sekarang juga. Bermainlah dan berbahagialah... karena saat ini, saat-saat seperti ini, belum tentu bisa terulang lagi. Karena saat ini akan jadi satu serpihan manis yang bisa membawa mimpi indah bila kalian dewasa nanti.


Persembahan khusus untuk penampilan luar biasa anak-anak peserta drumband SD Meksiko pagi.
1 medali emas, 1 medali perak, 7 Juara 1 per kategori + 1 piala bergilir Juara Umum Lomba Drumband Piala Presiden ke-VI 2007.
You kids have made us all proud.
Foto-foto bisa dilihat di sini.

Monday, July 23, 2007

Tebak Pikiran



Kalau gayanya seperti ini, kira-kira dia lagi mikir apa ya?

1. "Aku udah SD dong..."
2. "Aku keren ya"
3. "Sekarang aku udah gede"
4. "Pak, aku cakep nggak?"
5. "Hari pertama sekolah, aku seneng banget"
6. "Bapak ih, ade' dah mandi bapak masih bau" --> pas moto gw mang blom mandi.
7. "Aku satu sekolah sama kakakku"
8. "Bentar lagi aku gadis lho..." --> huaaa, bapaknya udah was-was.
.... dan daftarnya berlanjut terus.

Sementara itu, bapaknya mikir..."Wah, gw udah tua ternyata" hahahaha....

Friday, April 27, 2007

Bye Bye Abang


Fahri sometimes in 1994.


Fahri, Nov 2006 (paling atas)

"Abang, mau tinggal di sini? Kan Ato' galak, nanti Abang dimarahin terus?"
"Nggak papa deh, yang penting Abang bisa sekolah."
Jawaban itu keluar dari mulut seorang bocah berumur 13 tahun. Jawaban sederhana yang muncul dari pemikiran dewasa.

Dari kecil, dia memang sudah menggemaskan. Nggak pernah minta macam-macam. Nggak seperti layaknya bocah seusianya yang kepingin punya mainan banyak, pingin punya ini, pingin punya itu. Dia selalu menerima semua, apa adanya. Kalau diajak makan ramai-ramai pun biasanya dia selalu ingat untuk membawa bungkusan buat mama-papanya. Aaah, saat anak-anak lain masih maunya minta banyak, dia sudah terpikir untuk membagi kebahagiaan dengan orang tuanya.

Saat sudah mampu mengendarai motor, dia sering sekali mengantar mamanya, bahkan ke tempat yang jauh sekali pun. Pernah malam-malam dia lupa bawa jaket.
"Abang pakai jaket tante Mira aja... jauh kan jalannya."
"Nggak usah tante, Abang kuat kok nahan dingin."
"Udah pake aja, lagian jaketnya nggak kepake lagi kok."
Karena nggak mau ngerepotin orang, dia rela ngorbanin nahan dingin. Untuk membahagiakan orang lain dia rela ngalahin egonya. Bahkan saat sakit pun keluhan sangat jarang keluar dari mulutnya. Ah... ketegaran anak ini sungguh mengagumkan. Keluhan cuma keluar saat hari terakhir dia dirawat di rumah sakit.
"Ato, Abang mo pulang aja... sakit semua badan. Pulang aja ya To."
"Iya, tapi Abang sembuh dulu."
"Nanti tinggal sama Ato aja ya?"
"Iya..."

Sekarang Abang udah nggak sakit lagi. Sekarang mungkin Abang udah bahagia karena tempatnya memungkinkan dia untuk melakukan apa aja, dapetin apa aja... tanpa harus nyusahin orang lain.

Nanti kita ketemu ya Bang. Sementara ini Abang seneng-seneng aja dulu di sana.


In memoriam
Tengku Muhammad Fahri
7 Jan 94 - 24 Apr 07

Monday, February 26, 2007

PRT Pra-Bayar. Dagelanisasi rumah tangga.


Gambar diambil dari www1.istockphoto.com


Sekarang jaman susah. Harus pintar-pintar putar otak supaya bisa bertahan hidup atau katanya orang bule "to survive". Banyak usaha aja nggak cukup, kita juga harus banyak akal. Saking banyaknya, kadang malah kelihatan seperti akal-akalan. Susahnya, keseluruhan sistem sosial dan politik yang terjadi belakangan di negara kita seolah-olah memberi contoh dan bisa jadi pembenaran dari kegiatan "akal-akalan" tadi. Mau contoh kongkrit? Lihat saja di blognya Sesek yang secara konsekwen dan rutin rajin sekali menyorot perilaku-perilaku dagelan politik yang tersaji makin marak belakangan ini. Emang sih kita sangat butuh hiburan segar, tapi kalau yang ndagel itu elit politik rasanya sangat terlalu tidak lucu jadinya.


Nah, kembali ke budaya ndagel-mendagel tadi. Aktivitas ini ternyata sudah merambah ke mana-mana. Seperti yang terjadi beberapa minggu lalu. Ceritanya saya sedang butuh-butuhnya kehadiran asisten untuk membantu meringankan kerjaan istri mengurus rumah. Hingga akhirnya muncullah seorang wanita berwajah polos nan lugu yang menawarkan dirinya. Setelah tawar menawar yang tidak terlalu ribet, kesepakatan harga langsung didapat. Agak mengherankan juga karena biasanya proses negosiasi ini berjalan ulet dan ketat. Si Mbak pun pulang karena dia memang tidak membawa apa-apa.

Setelah beberapa hari, si Mbak dateng lagi dianter bapaknya. Kesan pertama, bapaknya terlihat baik dan nggak neko-neko. Tanpa panjang lebar, dia menasihati anaknya untuk mau nurut dan mendengar kalau dibilangin. Tak lupa si Bapak berpesan supaya kami sabar-sabar menghadapi anaknya, karena dia masih butuh bimbingan. Oke lah, nggak masalah karena di mana-mana, proses adaptasi memang butuh waktu. Di penghujung waktu, sebelum pulang, si Bapak meminta tolong dipinjamkan sebagian gaji anaknya karena dia kebetulan kepepet. Nggak masalah juga, toh anaknya sendiri nggak keberatan.

3 hari berjalan, si Mbak tiba-tiba minta ijin untuk pulang ke rumah bapaknya. Mau ambil baju katanya. Istri dan saya pun sedikit heran, lah kok mau kerja di rumah orang tapi nggak bawa baju kui piye toh? Kali ini baru masalah, ijin jelas nggak bakal dikeluarkan. Case closed. Si Mbak terpaksa tetap tinggal di rumah saya dengan persediaan baju seadanya.

Beberapa hari lalu, tiba-tiba si Mbak bilang dia mau pulang saja. Nggak betah lah, suka kambuh maag lah, terlalu berat kerjaannya lah. Diminta cariin ganti, dia nggak bisa. Diminta nunggu sampai sebulan penuh supaya dia bisa dapat sisa gaji, dia nggak kuat. Diminta supaya bapaknya yang jemput di rumah, dia nggak mau dan berkeras pulang malam itu. Ya sutra, ini negara bebas toh. Kerja di kantor pun kalau masih dalam probation masih bebas untuk berhenti kapan saja. Ini apa lagi, secara kontrak kerja aja nggak ada. Berangkat lah dia, bilangnya mau ke rumah saudara. Malam pun berjalan seperti biasa (emang ada malam yang nggak biasa ya?).

Besok malamnya tiba-tiba istrikuw bilang, si Mbak ternyata nginep di rumah temennya. Dia datang nangis-nangis dan mengadu seolah-olah sudah diambil haknya karena nggak dapat gaji. Kakaknya bahkan sempet nelpon ke temen dekat istri saya menanyakan kenapa kami sampai bisa sejahat itu. Saya sama istri cuma bisa ketawa-ketawa pahit dan melanjutkan nonton berita di TV mengenai dagelan negara. Ini jelas lebih menarik ketimbang dagelan rumah tangga yang nggak mutu ini. Hahahaha.

Monday, August 14, 2006

Princess for a Princess

Zahra Syamila atau lebih sering saya panggil dengan Ndut, begitu menyukai figur fantasi Princess. Mulai DVD, tas sekolah, baju, kostum, selop, sepatu, seprei semua bertemakan princess. Wujudnya terwakilkan dalam cerita yang bermacam-macam. Puteri Salju, Barbie, Cinderella... pokoknya asal ada sosok puteri cantik bermahkota, dia pasti menyebutnya dengan princess.


Secara princess gitu loh, maka warna pink adalah warna yang mendominasi. Buat saya ini lucu sekali. Sejak dulu, baik saya maupun ibunya nggak pernah mendoktrinasi dia dengan sosok-sosok kemayu ini. Bahkan bisa dibilang, kita seakan membentuk karakter dia menjadi tomboy. Ini sih sepertinya obsesi ibunya, secara waktu kecil hingga remaja istri saya merupakan sosok yang tomboy. Sahabat perempuannya bisa dihitung dengan jari. Sahabat laki-lakinya... weks, banyak beuneur. Itu juga yang bikin saya memilih dia. She's more like a best friend to me dan saya memilih untuk menghabiskan hidup dengan sahabat ketimbang orang tercinta. Cinta, sayang... itu bisa hilang jika tak dipiara (makasih buat seseorang yang membagi hal ini pada saya); tapi tidak persahabatan. Persahabatan begitu tulus, murni dan abadi. Adapun rasa yang kemudian muncul dibalik persahabatan itu lebih indah untuk dinikmati daripada diyakini.


Back to my princess.



Sabtu 5 Agustus lalu salah satu klien kita mengadakan acara. Sponsor utamanya adalah produsen boneka Barbie. Dalam acara itu, akan dibagi-bagikan gratis boneka Barbie untuk panitia dan pengisi acara. Mengingat si Ndut adalah penggemar Barbie, maka saya memutuskan untuk bisa datang. Tapi satu dan lain hal, saya jadi berhalangan. There goes my baby’s Barbie... hiks.


Sampai di hari Senin yang katanya orang adalah blue monday (hm... saya agak ngerasa gitu juga sih hari itu, soalnya pas weekend ada kejadian yang kurang mengenakkan). Setibanya di kantor, tiba-tiba dipanggil Ais “Bucin... bucin, sini deh...”. Saat saya dekati, tebak apa yang dia pegang? Tepat. Satu paper bag berisi sebuah boneka Barbie dengan gaya princess. “Gue inget kok...” kata Ais sambil menjulurkan paper bag tersebut. Oh my god... I’m so touched. Almost crying, tas itu saya ambil dan berkata “Oh it’s so pretty (maaf sok ngenglis :p)... makasih Ais.”


Malamnya saya pulang agak larut (hm... kalau jam 1 pagi itu agak larut apa udah larut banget nggak sih? hihihi). Sampai di rumah, ritual suami sayang istri (apa takut istri ya...). I kiss my wife on the forehead while she slept. Tiba-tiba dia kebangun. Zahra juga (duh, nih anak udah mau 5 tahun tapi kolokan, kalo bobo harus sama ibunya). Kebetulan boneka Barbienya sudah saya pasang di atas lemarinya dia. Waktu ibunya bilang “De, lihat bapak bawa apa?” sambil menunjuk ke arah boneka. Zahra yang masih 5 watt mukanya tiba-tiba tersenyum malu dan memeluk ibunya kembali. Qeqeqe anak ini, kalo bapaknya bikin surprise pasti selalu gitu. Malu-malu kucing, seneng tapi berusaha nggak ditunjukin. Dia lalu melirik-lirik ke arah bonekanya dan kemudian tertidur lagi.


Saat rebahan di tempat tidur, saya jadi geli sendiri. Kenangan masa kecil sepintas berkelebat. Masih jelas bagaimana dulu saya juga punya imajinasi seperti itu. Mengasosiasikan diri dengan tokoh idola. SPACE GHOST (duh, ketahuan tokunya deh). Nggak tahu kenapa, saya dulu sangat menyukai tokoh itu. Seiring berjalannya waktu, idola-idola saya juga berganti. Jago kung-fu, cowboy, tentara dan banyak lagi figur-figur lainnya. Tapi... bentar deh, kaya’nya sampai sekarang pun saya masih sering mengasosiasikan diri dengan tokoh tertentu. Hehehe... ternyata itu nggak akan pernah berhenti. Sepertinya itu yang bikin hidup ini jadi lebih menarik untuk dijalani. Dibalik segala keterbiasaan dan keharusan, kita ternyata masih butuh sarana lain untuk sejenak melepaskan diri dari kebosanan dan kepenatan. Eskapasi kata teori waktu kuliah dulu.


Ah... such a lovely imagination. No wonder some people don't want to grow up.


Back to Zahra.
Keesokan harinya, saya sempatkan untuk mengambil gambar dia dengan boneka princess Barbienya. Lihat aja gambarnya di bawah. Kelihatan nggak kegembiraan dia di matanya? :)



Special thanx buat Ais & Anna.





Thursday, November 10, 2005

The Birthday Girl




zahra syamila, 4 years old (november 10th 2005), 24 kg weight. what a chubby

momen yg bikin hari ini jadi blue thursday adalah saat saya mandi dia bertanya dari luar kamar mandi "bapak nggak kerja kan hari ini?".

deg!

saya cuma bisa berkata, "kerja sayang... nggak apa apa kan?"

tersenyum manis sebentar dia memutar badan. sambil berjalan dia berkata dengan tetap riang "nggak apa-apa".

benar-benar pilihan sulit. ngejar deadline atau menemani si birthday girl di hari spesialnya.

maafkan bapak. suatu saat kita pasti bisa seharian bersenang-senang di hari ulang tahun kamu. entah kapan... tapi pasti akan terwujud. insya allah.

Tuesday, November 01, 2005

8



tahun pertama
huaaaaaaaaaah
1 + 1 = 2
tapi nggak semudah itu

tahun ke-dua
waaaaaaaaaah
kok gak punya perasaan?

tahun ke-tiga
duuuuuuuuuuuuuh
pusing, pusing, pusing

tahun ke-empat
laaaaaaaaaaaaaaaah
gini salah, gitu salah

tahun ke-lima, enam, tujuh
masih belum bener juga
susah banget sih buat ngerti
jorok, berantakan, nggak sopan, pelupa, nggak perhatian, nggak peduli, sia-sia, pedih, nyeri, nyakitin, capek, miris, keras kepala, ndableg, keukeuh, ngawur...

tanpa sadar sudah menapak tahun ke-delapan
masih banyak lagi keluhan-keluhan yang akan muncul
tapi kita masih juga bertahan
untuk apa?


untuk kita!


semoga kesabaran dan kekuatan akan terus berada di pihak kita
bukan aku atau kamu

Saturday, September 10, 2005

Peri Kecil



dengan sebatang tongkat ajaib kau hadir
sedikit ayunan dan bintang-bintang pun gemerlap
kesedihan jadi kebahagiaan
duka jadi suka
seketika
rengutan bibir berganti bentuk jadi senyum

sim salabim!
labu berubah jadi kereta kencana
tikus jadi kuda
siap mengantarkan cinderella ke pesta istana

di sana
pangeran impian menanti
meski hanya untuk setengah jam kebahagiaan
yang harus terenggut oleh dentang bel
tengah malam

sim salabim!
ajaib!
di hatiku
labu itu tetap menjadi kereta kencana
lengkap dengan kuda, kusir dan dayang-dayang
tapi bukan cinderella yang menaikinya
melainkan engkau

kau bawa kereta kencana itu terbang
bermain di antara bintang dan rembulan
menebarkan kebahagiaan
untuk segenap isi bumi

tetaplah kibaskan tongkat ajaibmu
karena dunia ini membutuhkanmu
wahai peri kecilku

Monday, August 01, 2005

"1st Step & Insting"


Minggu 31 Agustus 2005.

Tidak ada yang istimewa hari itu. Saya bangun tidur masih dengan mata sembab karena dibangunkan Zahra. Pagi-pagi dia sudah laporan kalau roda penompang sepedanya rusak. Setelah saya periksa, ternyata bautnya sudah dol. Akhirnya saya bilang "De, rodanya copot aja ya. Ade belajar roda dua ya?". Mengejutkan sekali, dia menjawab "Iya..." dengan penuh kepastian. Tadinya saya kasihan karena menyangka dia tidak punya keberanian untuk membantah orangtuanya. Alhasil, pagi itu dia cuma bisa mendorong-dorong sepedanya karena dia belum punya kemampuan untuk mengendarainya.

Sampai kemudian di sore harinya kami pergi ke rumah orang tua saya. Seperti biasa, kalau ibu-bapaknya pergi, anak-anak pasti minta ikut. Sepanjang perjalanan (jarak kontrakan saya dengan rumah orang tua cuma berjarak sekitar 200 meteran) saya dan istri bergantian memegang sepeda Zahra supaya dia bisa belajar menyeimbangkan dirinya. Ternyata kurang berhasil, karena setiap kali sepedanya miring dia malah menurunkan kakinya.

Sampai saat kami pulang, akhirnya Ilham (anak pertama saya) mengajarkan adiknya bagaimana menjalankan sepeda. Sederhana saja. Duduk dan dorong dengan kaki. Begitu sederhananya sampai saya pun tak terpikir untuk memberikan contoh seperti itu. Anehnya, Zahra bisa mengikuti contoh dari kakaknya. Dia mendorong sepeda dengan kaki, menjaga keseimbangan lewat setang kemudi dan sesekali saat akan jatuh dia menurunkan kakinya.

Keajaiban terjadi. Cuma dua kali mendorong dan menyeimbangkan sepeda, Zahra berani untuk mengayuhnya. Dan.... sim salabim! Dia langsung bisa mengenderai sepeda roda duanya di hari yang sama saat saya mencopot ban pendukungnya, cuma selisih sekitar 7 jam. Akhirnya saya dan istri saya memutuskan untuk menemani anak-anak bermain sepeda di pekarangan mesjid dekat rumah kami. Zahra terlihat begitu antusias dan penuh semangat. Setiap kayuhan kakinya diiringi dengan binar mata penuh kebahagiaan. Selama setengah jam saya dan istri saya cuma melihat dia begitu berkonsentrasi dengan sepedanya. Setengah jam penuh kebahagian dan begitu dalam maknanya buat saya.

Satu hal yang saya pelajari dari anak saya adalah bagaimana dia bisa begitu berani mengambil "langkah pertamanya". Proses adalah hal penting, tapi mengawali suatu proses adalah yang terpenting. Berani atau tidak kita mengambil keputusan. Saya jadi teringat pesan salah seorang senior, "Mengambil keputusan itu mudah. Tentukan pilihan dan pertahankan mati-matian agar pendapat itu bisa diterima orang."

Dia juga menambahkan tentunya bahwa pemilihan itu tidak cuma berdasarkan selera tapi juga pertimbangan-pertimbangan rasional lainnnya. Sebuah sudut pandang yang nyaris tak pernah terbayangkan oleh saya. Ternyata memang harus begitu. Bidang kerja kita tidak terpaku pada teori mutlak. Teori-teori tersebut hanya bersifat pendukung. Bagaimana kita mampu mengaplikasikannya sehingga menjadi bentuk yang menarik, di situ kuncinya. Pada akhirnya kita tidak bisa menggantungkan diri sepenuhnya pada pendapat orang lain. Di satu titik di mana semua orang menumpukna harapan pada kita, kita cuma punya insting (kalo kara orang Suriname "guts"). Masalahnya, bisa nggak kita percaya pada insting kita? Banyak contoh-contoh pengusaha sukses yang bisa berhasil karena percaya pada instingnya. Mereka berani memutuskan "langkah pertama" mereka.

Bisa kah kita percaya pada insting kita? Untuk kemudian menentukan langkah berikutnya, yaitu mengayuh pedal untuk menjalankan "sepeda keputusan" kita sendiri? Saya tak tahu dengan Anda, yang jelas buat saya hal itu tidak semudah yang terlihat.

Pertamakalinya Zahra naik sepeda roda dua. Kalau mau lihat aksinya, bisa klik link video ini.

Monday, June 06, 2005

Kakikuw-Kakimuw





entah sudah berapa
ribu, ratusan ribu bahkan jutaan langkah
kita tempuh

lembutnya pasir
sejuknya rerumputan
tajamnya kerikil
kita sudah rasakan

searah
bertentangan arah
maju, mundur, ke samping
akan selalu dan selalu
menyeret arah kita

letih
lelah
nyeri
perih
jadi keseharian kita

tapi
kakimu selalu ada
entah di depan...
di belakang
atau di sisi
untuk menyertai kakiku
meski kaki ku
kerap menghadang kakimu
membuatmu oleng
atau bahkan terjatuh

semua tak membuat
kakimu menjauh
bahkan mendekat
lebih dekat dan semakin dekat

untuk itu
aku cuma bisa berbisik
terima kasih tuhan...


SAC 060605
dedicated to the beloved mom of my kids
lagi agak-agak melankolis nih :p

Friday, March 04, 2005

I'm A Human Dalmatian

Cacar air yg baru saja pergi dari terminal B (Bucin; qeqeqe...) tidak hilang begitu saja. Mereka meninggalkan bekas yang cukup signifikan dalam proses pengurangan kadar kegantengan saya (mending ge-er daripada minder huahahahaha).

Biar nanti-nanti kalo ketemu saya kalian nggak kaget, nih penampilan saya yang baru. Jangan takut ya.... qeqeqeqe...



Wednesday, March 02, 2005

My Folks!



Mereka cuma orang biasa. Tinggal juga cuma di kompleks Bank Tabungan Negara (baca: KPR BTN; red.) tipe 70, 2 tingkat. Mobilnya Mitsubishi T120SS yang sejak pertama beli di tahun 1990 belum diganti-ganti sampai sekarang. Dua-duanya pegawai negeri. Bokap pensiunan, dulu dinas di TVRI dengan jabatan terakhir cuma Cameraman. Nyokap juga cuma guru SD. Really, there's nothing special about them. Nggak ada juga yang bisa bikin kalian-kalian yang baca postingan ini, terkagum-kagum akan kehebatan atau keluar-biasaan. Asli. Orang tua saya adalah manusia biasa, manusia kebanyakan.

Saya menulis ini juga agak-agak narsis mungkin. Karena semua dilandaskan atas kekaguman saya pada mereka. Saya kagum akan kenekatan mereka. Keberanian untuk meninggalkan kenyamanan demi pengalaman baru yang lebih menantang. Keinginan untuk terus berjuang.

Semua berawal dari 23 tahun sebelumnya (di tahun 1981 tepatnya). Saat itu papa (that's what I called him) sudah sekitar satu tahun menjabat sebagai Kabag (Kepala Bagian) Pemberitaan di TVRI Makassar. Bukan jabatan mewah kok. Kendaraan yang papa punya waktu itu cuma motor yang kalau pergi ke mana-mana dinaikin ber-6 (papa, mama dan 4 anak-anaknya). Untung waktu itu belum ada peraturan yang membatasi jumlah penumpang kendaraan bermotor qeqeqeqe. Kemewahan tertinggi yang bisa kita nikmati saat itu cuma kiriman parcel di hari lebaran.

Di tahun 1981 itu, entah kenapa... papa memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Karena mutasi ini bukan inisiatif kantor maka papa harus rela turun jabatan menjadi Cameraman. Tawaran rumah dinas dari Kepala Stasiun TVRI Makassar saat itu (Azis Husain) supaya papa tetap bertahan, ditolak. Sebuah alasan yang kelihatannya tidak masuk akal. Melepaskan jabatan dan fasilitas demi sebuah ego.

Ternyata keputusan "gila" itu membawa banyak sekali manfaat. Bukan dalam bentuk harta, tapi dalam bentuk pengalaman yang tak ternilai. Papa akhirnya bisa 13 kali berangkat haji; meskipun cuma abidin (atas biaya dinas). Mama juga bisa sekali pergi haji gretongan.

Nggak gitu banyak sih manfaat buat mereka, tapi buat saya? RRRUUUAAAARRRR BIASA. Saya bisa kuliah di UI, saya bisa jadi additional guitarist Singiku (sampai nongol di MTV Live 'N Loud malah), saya bisa kerja di Advertising dan berteman dengan artis-artis, saya bisa lihat Monas/Gedung MPR-DPR/Istana Negara/Dufan & Ancol/serta Mangga Besar, saya bisa tiap hari kerja ngelewatin Semanggi, saya bisa ketemu selebritis-selebritis di mall. Pokoknya banyak hal yang kelihatannya sepele, tapi kalau kita tinggal di daerah itu merupakan kejadian istimewa yang nggak akan mungkin bisa dinikmati setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun atau bahkan seumur hidup.

Tanpa saya sadari sebelumnya, ternyata kepindahan orang tua ke Jakarta membuat saya bisa menikmati begitu banyak kenikmatan dan kesempatan. Adek saya yang nomor 2 bahkan bisa mendapat beasiswa dan mengambil S2 di Waltham, Boston (room-mate-an sama Indira Abidin lho... anaknya Indra Abidin... qeqeqeqe....). Ternyata ada sesuatu yang dulu tidak saya sadari tapi sekarang baru saya mengerti. Orang tua saya berkorban demi memberikan anak-anaknya kesempatan yang lebih luas. Kesempatan untuk menikmati pengalaman yang lebih beraneka ragam dalam hidup.

Bisakah saya nanti memberikan kesempatan serta peluang yang sama untuk anak-anak saya? Semoga. Semoga saja. Saya merasa hutang saya pada orang tua, harus saya bayarkan pada anak-anak. Setidaknya, anak-anak saya harus bisa mendapat peluang yang sama; kalau bisa malah yang lebih baik... bahkan yang terbaik.

Ah... ternyata menjadi orang tua itu benar-benar membahagiakan. Thanks dad... mom... for everything. I owe you alot.

Saturday, February 26, 2005

Nak, maafkan bapak!

Mungkin cuma itu yang bisa saya katakan saat anak-anak saya dicecar pertanyaan "Emang di rumah nggak diajarin shalat?". Saya memang tak pernah punya rasional yang kuat atas pertanyaan seperti itu. Sama dengan diamnya saya saat teman-teman bertanya "Kok lu nggak shalat sih?".

Mungkin alam pikiran saya berbeda dengan pandangan dan pemahaman kolektif masyarakat. Pemahaman saya pun mungkin bisa dianggap sebagai "kekufuran". Alasan saya belum (belum lho, bukan tidak) mau mengajarkan shalat semata-mata karena saya ingin merubah interpretasi anak-anak saya terhadap esensi keberagamaan.

Dari dulu saya selalu dicekoki oleh paradigma bahwa orang yang saleh itu adalah mereka yang taat menjalankan perintah Allah. Bahwa mereka yang ingkar padaNya akan mendapat siksa. Akhirnya Allah menjadi sosok yang begitu menakutkan. Semua beribadah karena tidak mau masuk neraka. Sebuah pemahaman yang justru menjauhkan manusia dari indahnya kemaha-cintaan Allah terhadap manusia.

"Takut jangan sama setan, tapi sama Allah!". Entah sudah berapa ribu kali saya mendengar statement itu. Saya bosan! Saya jenuh! Saya capek! Saya tak mau anak-anak saya terjebak dengan semua perasaan negatif yang pernah saya rasakan. Saya mau anak-anak saya mencintai Tuhannya. Itu sebabnya saya lebih suka mengajarkan dan memberi contoh pada mereka, bagaimana menjalani hidup ini dalam ke-Islam-an. Bukan sebagai penganut agama Islam.

Saya lebih suka melihat anak-anak saya nantinya mampu mengikhlaskan sebagian besar rizki mereka untuk membantu kaum duafa (kaum yang kurang mampu; red.) ketimbang mereka taat beribadah dan hanya menyisihkan 2,5% dari harta yang dititipkan Allah pada mereka. Saya mau mereka sadar sepenuhnya bahwa apa pun yang mereka dapatkan semata-mata adalah amanah, bukan pemberian untuk dimiliki. Saya mau mereka mencintai sesamanya karena mereka sadar bahwa setiap manusia adalah pembawa ruhNya yang ditiupkan saat kita semua masih berupa jabang bayi berusia 120 hari. Saya mau mereka mengerjakan ibadah karena semata-mata atas dasar kecintaan padaNya dan bukan ketakutan. Saya mau mereka begini, begitu, begene, begono.

"Gila lu Cin. Lu mau anak lu jadi apa?". Hehehehe... sebuah pertanyaan tolol. Karena orang tua tidak punya hak atas anak mereka! Anak sama statusnya dengan orang tua: mahluk. Semuanya sudah diatur.

"Sebuah pandangan pesimis tuh, jadi menurut lu manusia nggak perlu berikhtiar dan berusaha?". Lho... memangnya saya pernah bilang begitu? Apakah usaha untuk mencintai sang Maha Pencipta bukan usaha? Apakah berusaha untuk menyatukan keinginan manusia dengan keinginanNya bukan usaha?

"Mau jadi apa agama Islam nantinya kalau semua orang seperti elo Cin?". Entah lah. Siapa yang tahu? Apakah jika suatu saat orang tidak lagi melakukan ibadah tapi ternyata berhenti melakukan kemaksiatan merupakan hal yang buruk? Apakah jika satu saat orang mencintai sesama sebesar cinta pada diri sendiri itu kemunduran?

Saya tidak pernah mengatakan hukum dan aturan agama itu adalah hal yang buruk. Bagaimana bisa saya bilang itu buruk sementara yang menetapkan aturan itu adalah Dia sang Maha Pengatur? Saya cuma berusaha mencari makna lebih jauh dari aturan-aturan keberagamaan itu. Saya pernah mengalami shalat tarawih sendirian dimana tidak ada satu rakaat pun lewat tanpa tetesan air mata penyesalan atas segala kesalahan, khilaf dan dosa yang saya lakukan. Tapi setelah shalat itu selesai, begitu pula pikiran saya akan kehidupan setelah hidup ini. Saya kembali terperangkan dalam dimensi semu bernama kehidupan duniawi. Tapi kenapa setelah tetek bengek ritual itu saya hindari, saya merasa jadi lebih dekat denganNya? Kufur kah saya?

Sebelum Anda memberikan judgement menjawab pertanyaan di atas, saya cuma mau membawa Anda ke tatanan logika. Innallaha wa'malaaikatahu yushollunna ala'nnabiih kurang lebih artinya (menurut terjemahan di Qur'an) adalah sebagai berikut: Sesungguhnya Allah beserta malaikat bershalawat kepada nabi (Rasulullah SAW). Wait... wait... emang ada kata shalawat di situ? Shollu... sholli... itu adalah bentuk kata kerja lain dari shalat. Kenapa diterjemahkan sebagai shalawat? Apa karena kita takut menganggap Allah menyembah Rasul (dengan asumsi shalat itu adalah seperti apa yang diyakin oleh awam)? Apa tidak mungkin bahwa shalat itu memiliki bentuk lain diluar takbir, ruku', sujud, tahiyat? Rasul memang pernah berkata "Shalat lah engkau seperti aku shalat". Apa iya... saat berkata seperti itu, terminologi yang digunakan rasul adalah shalat berupa ritual berdiri-jongkok-sujud? Terus seperti apa shalat itu? Wallahu alam bissawab.

Keterangan dalam Qur'an terbagi dalam dua jenis. Ada yang jelas maknanya, ada yang kabur. Untuk yang jelas maknanya, gunakan akal. Untuk yang kabur, gunakan rasa. Saya memilih menggunakan rasa. Murtadkah saya? Kafirkah saya? Yang jelas sahabat terpercaya Rasul, syaidina Ali, pernah berkata "Ada 3 kantung ilmu yang Rasulullah titipkan padaku. Hanya 2 kantung yang aku buka, jika satu kantung tertutup itu aku buka maka halallah darahku". Maksudnya apa? Mboh... kita semua kan sudah dewasa. Pasti bisa mereka-reka, menduga-duga, menganalisa dan berkesimpulan secara sendiri-sendiri.

Mungkin ada baiknya saya tidak cuma meminta maaf pada anak-anak saya, tapi juga pada kalian semua sahabat dan saudara-saudaraku. "Maafkan saya...".

Itu saja.

Thursday, February 24, 2005

Chickenly Poxing

Yup. I just have 'em. The chicken pox. At my age of 33... I finally got 'em, and I got 'em really good.

It started when my lovely cute adoring daughter got infected. (Cape' nih bahasa Inggris... roaming it'l... biayanya mahal). Jadi lah saya juga ketularan. Setelah 15 tahun lalu berhasil selamat (saat 2 adik saya terkena cacar air) kali ini saya dapat giliran.

Saya sudah berusaha untuk menjaga kondisi. Tapi tuntutan kerjaan memaksa saya harus lembur sampai pagi (masuk kantor tanggal 3/2 pulangnya tanggal 4/2 jam 4 dini hari). Siangnya (jam 2-an) lanjut ke Pyramid untuk bikin animatic sampai jam 10 malam. Jam 10 pagi sudah ada di kantor lagi (working at weekend really suck yaaaaa) sampai jam 5 sore. Malamnya, my body started to feel not delicious (nggak enak badan). Minggu pagi, 3 cacar air menampakkan batang hidungnya. Finally... shit happened. Minggu malam masih berjalan lancar. Badan saya masih normal, tidur juga nggak ada masalah.

Senin pagi saya terbangun dengan kondisi badan penuh bercak-bercak merah. "Hm... they're about to grow..." kata saya dalam hati. Senin malam, badan saya mulai ngilu. Semua otot ngilu. Setiap pergerakan merupakan penyiksaan buat saya.

Selasa pagi... para jabang cacar air mulai menunjukkan cairan. Seharian saya cuma bisa berbaring. Rasa malas begitu mengikat membuat semua aktifitas terlihat menjadi begitu tidak menarik. Selasa malam bagaikan ajang penyiksaan. Rasa ngilu di setiap sendi dan otot merupakan penyiksaan yang menjadi rutinitas.

Rabu pagi. The G-Day! Cacar-cacar air itu menjadi matang dan gatal. Mengelus halus area-area yang gatal (nggak boleh digaruk bok! ntar bekas lho...) menjadi kenikmatan duniawi tertinggi saat itu dan mengalahkan semua keinginan-keinginan lain yang biasanya bergejolak di kepala. Gatal itu membuat saya tidak bisa tidur sama sekali! Akhirnya saya minum Panadol Cold & Flu yang mengandung obat tidur. Blas... selamat datang di pulau kapuk!

Kamis pagi. Badan semakin tak nyaman. Setiap senti di bagian wajah, tangan dan badan penuh oleh bentolan-bentolan yang melenting berisi cairan. Dan mereka tak juga menunjukkan tanda-tanda mengering. Kondisi yang sama berlangsung hingga hari Jum'at dan Sabtu. Akhirnya hari Minggu saya ke dokter spesialis kulit. Menurut si dokter, jenis cacar air yang saya derita adalah Universalis. Artinya... cacarnya penuh di seluruh badan (istilahnya kok ya sederhana banget ya... qeqeqeqe). Oleh si dokter dosis obat anti virus saya ditambah. Dari yang tadinya 3x sehari, menjadi 10! 2 kaplet diminum tiap 3 jam. Saya juga dikasi obat tambahan yang saya nggak begitu ngerti fungsinya apa. Oh ya... dokter juga menyuruh saya untuk mandi seperti biasa, tapi pakai sabun & shampoo yang anti bakter.

Ajaib! Baru 2 hari saja, hampir semua cacar air saya mengering. Di hari ke-3 (Rabu), cacar-cacar yang mengering itu mulai rontok satu persatu. Kamis bisa dibilang sebagian besar badan cacar air sudah rontok. Jum'at saya malah sudah ikut acara farewell party-nya client di Upstair PS.

Senin saya sudah masuk kantor. Tapi ternyata kondisi saya masih menimbulkan ketakutan di sebagian orang. Mereka menganggap bahwa kondisi di mana cacar air sudah mulai mengering adalah tahap yang paling rentan dalam penularan. Padahal masa inkubasi cacar air itu berkisar antara 10-14 hari. Jadi saat kita positif terkena cacar air, berarti kita tertular sejak sekitar 10-14 hari sebelumnya. Masa awal si carier menderita cacar. Jadi bukan di masa akhir. Makanya di banyak kasus, orang lain mulai tampak tertular setelah carier mulai menunjukkan tanda kesembuhan. Orang-orang menganggap bahwa masa itu lah masa yang paling rentan dalam penularan padahal sebenarnya penularan telah terjadi 10-14 hari sebelumnya.

Back to my case, akhirnya demi kemaslahatan umat, saya mengalah. Senin malam saya ke dokter untuk minta surat ijin. Senin minggu depan saya baru mulai masuk kantor lagi. Kalau dianggap masih menular, ya... bikin surat ijin dokter lagi qeqeqeqeqe... MAKAN GAJI BUTA!

Menderita cacar air memang benar-benar pengalaman yang tidak menyenangkan!