Pages

Showing posts with label curbung. Show all posts
Showing posts with label curbung. Show all posts

Wednesday, April 02, 2008

Art of war? Asaiwar!!!



Beberapa waktu lalu, saya kebetulan main ke salah satu kantor tempat saya pernah bekerja. Suasananya masih seramah dulu. Beberapa perubahan kecil di sana sini nggak membuat sedikitpun kenyamanannya hilang. "Hm... nggak heran banyak yang betah kerja di sini" batin saya.

Lagi asik duduk di lobby tiba-tiba Harimukti muncul agak tergesa-gesa. Muka halusnya masih tetap terawat. Dia memang pria metrosexual sejati. Jarak 5 meter, wanginya udah nyampe duluan.

"Hi Cin, pakabar lo? Wah, tumben main kemari" penuh semangat dia menyapa dan langsung duduk di kursi samping saya. Beberapa cerita lama kembali dinostalgiakan. Keluhan tentang beberapa klien masih ada (duh plis deh, hari gini ngomplenin klien, sampai iklan serial penyedia selular muncul dengan perkawinan ke-4-nya; yang entah nantinya dengan hewan apa; juga nggak bakal hilang tuh masalah).

Sedang asiknya ngobrol, tiba-tiba Sangaji melintas. Dia jalan berdua dengan Peter. Mereka sepertinya terburu-buru sehingga saya nggak sempat berbasa-basi panjang lebar. Keduanya tampak sangat akrab.

Setelah mereka menghilang, saya nanya ke Hari, "Eh, Peter bukannya dulu musuhin Sangaji? Kok sekarang..."

"Itu dia," potong Hari. "Kaya'nya Sangaji habis baca buku Sun Tzu - The Art of War. Nggak tauk gimana ceritanya, pokoknya Peter berubah jadi baik ke dia".

Sangaji memang sangat senang membaca. Tapi saya nggak yakin dengan hipotesa Hari karena Sangaji itu polos dan cenderung naif. Bacaannya pun biasanya yang ringan-ringan. Obrolan dengan Hari pun berakhir setelah di menit ke-45, SMS dari istri muncul. Isinya sangat singkat dan padat, cuma 3 kata, "udah malam, pulang!".

Besoknya saya nge-buzz Sangaji lewat YM.
bucin: Ji, hebat lo sekarang...
sangaji: hebat apaan? gue sih masih gini-gini aja lah. tetep pegawai.
bucin: bukan, maksud gw, lo udah ngapgred bacaan lo
sangaji: maksudnya?
bucin: lo udah baca buku Art of War ya? kok Peter bisa baek gitu ke elo. lo udah melakukan strategi peperangan yang dahsyat :p >>> kalau di YM, muncul emoticon muka nyengir sambil meletin lidah
sangaji: ah, nggak lah
bucin: terus, lo apain? lo pelet?
sangaji: :)) >>> ini gambarnya emoticon terbahak-bahak
bucin: ketawa lagi...
sangaji: nggak kok. gue sih ambil gampangnya aja. musuh gue; well... setidaknya orang yang menganggap gue musuh lho ya, gue sih nggak pernah musuhin orang; itu kan mungkin banyak. daripada ribet, ya gue jadiin temen aja.
bucin: dapet darimana lo strategi itu?
sangaji: dari buku matematika anak gue yang SD. teman itu ibarat garis bilangan. kita di titik 0, temen yang baik ada di area positif, temen yang nggak suka sama kita di area negatif.
bucin: ok, terus?
sangaji: ya udah, gue tinggal nyari cara supaya orang-orang yang ada di area negatif ini berkurang. dihilangin kan nggak mungkin? masak mau lo bunuh tuh semua orang yang nggak suka sama elo?
bucin: hahahaha terus lo apain?
sangaji: nggak ada. gue baikin aja.
bucin: mereka nggak curiga lo punya maksud tertentu?
sangaji: itu elo kali, kalo gue sih tulus aja. terserah mereka mau curiga apa nggak. tapi ternyata so far, ketulusan itu terbukti manjur kok. alhamdulillah, orang-orang yang tadinya kelihatan ada jarak sama gue sekarang udah berubah.

Desss... sesederhana itu ternyata.

Tiba-tiba muncul chat box dari id-nya Harimukti. Textnya warna merah tebal dengan tulisan "BUZZ....". Kotaknya bergetar hebat sekitar setengah detik. Saya balas:
bucin: bentar, lagi ngobrol sama Sangaji
harimukti: bener kan kata gue, dia udah baca buku The Art of War...

"War war asaiwar...!!!!" kata saya dalam hati sambil menutup semua chat box karena bos baru aja ngelongokin kepalanya di pintu ruangan sambil nyengir-nyengir kuda menyuarakan undangan yang lebih tepat disebut instruksi "Semua ke ruangan saya ya...".

Thursday, June 28, 2007

Seperti Apa Rasanya



Seperti apa rasanya...

Waktu lo sadar lupa pakai gesper pas udah nyampai kantor?
Waktu lo mau present ke klien tapi materi ketinggalan?
Waktu lo pulang cepet gak bilang (sok mo bikin kejutan buat anak-bini) tapi ternyata mereka lagi jalan2 keluar rumah?
Waktu lo dah nefsong beli baju inceran ternyata kartu over limit?
Waktu lo dah leyeh2 di sore hari trus job req rush job muncul?
Waktu lo dah dandan rapi mo ngapel tapi pacar tiba2 sms bilang sakit?
Waktu lo pas semangat kerja tapi kantor mati lampu?
Waktu lo dah nge-plan piknik tapi tiba2 hujan deras?
Waktu lo dah nyiapin materi presentasi semalam suntuk tapi pagi2 klien ngabarin, deadline diundur sampai waktu tidak ditentukan?
Waktu lo beliin anak mainan tapi dia udah terlanjur gak mau?
Waktu lo mo nonton nomat tapi bioskop sejakarta mogok nomat?
Waktu lo nyampe di pesta kawinan baru sadar lupa make kolor?
Waktu lo dah nyampe lapangan tapi lupa bawa spatu olah raga?
Waktu lo denger kabar kalo EPL gak disiarin langsung lagi musim depan?
...
..
.

Wednesday, May 30, 2007

Refreshing Di Pagi Hari




Tadi pagi nonton tivi, di Cina, mantan ketua BPOM-nya Cina divonis hukuman mati karena terbukti menerima suap senilai total 7 koma sekian miliar rupiah. Kalau di Indonesia kira-kira dapat berapa tahun hayo?

Tadi pagi nonton tivi, korban lumpur Porong ada yang udah setahun rumahnya terendam lumpur tapi proses penyelesaian masih belum ketemu titik terangnya. Andainya kejadian ini di Singapore, kira-kira pemerintahnya udah nemu solusi belum ya?

Tadi pagi nonton tivi, Miss Universe 2008 berasal dari Jepang. Seandainya yang menang dari Indonesia, kira-kira FPI akan melakukan apa ya? Mendukung atau menghujat?

Tadi pagi nonton tivi, iklan-iklan kita kok masih tetap dengan pola-pola yang sama ya? Demo produk, eksploitisir endorser, slapstick joke, predictable twist. Emang sih pengaruh klien cukup kuat, tapi apa iya harus gitu? Kalau di negeri lain seperti apa ya? Katanya sih sama aja, tapi kok...

"WOY! Dasar orang iklan. Ujung-ujungnya yang diliat iklan lagi... iklan lagi. WAKE UP MAN! Banyak hal yang lebih besar dari iklan!" (sebuah suara entah dari mana bergema di kepala gue).

"Eh dah jam sembilan. Wah telat ngantor nih..."

Friday, July 14, 2006

Kaya'nya ada yang kurang deh, tapi apa ya...?

Istrikuw tercinta (carmuk dikit ma istri :p) sering minta pendapat mengenai masakannya.

"Yang, cobain dong... kurang apa?"

Sesendok kecil masakan pun masuk ke mulut. Saya mengecap, diam sesaat, mata melongok-longok ke atas dan samping. Pura-pura mikir bentar lalu ujung-ujungnya komen yang keluar standar juga.

"Enak sih, tapi ada yang kurang deh. Tapi apa ya?"

Pernah nggak sih ngalamain situasi seperti itu? Saat semuanya serasa sudah pada tempatnya, tapi tetap terasa ada yang kurang. Sekalipun banyak upaya diusahakan, tetep aja kekurangannya nggak ketahuan.

Tambah garam, jadi keasinan.

Tambah air putih, agak hambar.

Masukin kecap... kemanisan!

Sambelin aja! Wah... pedes.

Kasih vetsin... duuh artificial sekali rasanya.

Sepertihalnya mencicip masakan, belakangan saya kok makin sering ngerasain hal yang serupa ya? Kaya'nya masih ada yang kurang, tapi nggak tauk apanya. Parahnya itu terjadi di hampir semua sendi kehidupan (hayah... istilah apa pula ini?).

Kamu pernah merasa seperti itu?

Apa yang kamu lakukan?

Friday, October 14, 2005

Weirdest Dream

Dan ketika gerbang itu terbuka, jutaan kerlip cahaya bintang menghambur tanpa henti. Sebuah sumber cahaya yang merupakan asal dari jutaan bintang bertaburan tak sanggup terlihat. Kilaunya begitu menyilaukan. Bukan. Bukan mata yang silau. Tapi jiwa yang silau oleh kemegahannya.

"So...?" sebuah kalimat yang jelas tertangkap maknanya muncul dalam benak. Anehnya telinga ini tidak menangkap adanya suara sama sekali. Seolah-olah komunikasi yang terjadi adalah melalui telepati.

"Apaan nih?" tanya saya balik.

"Jadi gimana... lu kan udah 34 sekarang."

"Yaaah gimana ya, nggak gimana-gimana lah. Biasa aja. Kan situ juga yang ngasih."

"Ah... makin jago ngeles aja."

"Maklum lah... namanya juga manusia."

"So... udah siap masukin gerbang ini?"

"Terserah. Menurut situ?"

"Kok dibalikin lagi? Ya udah. Sekarang aja."

"Jangan sekarang dong."

"Katanya tadi terserah gue. Gimana sih. Emang masih kurang waktunya?"

"Bukannya kurang. Tapi saya masih belum memberi manfaat yang cukup buat orang banyak. Bukannya itu tujuan situ bikin saya?"

"So... what do you have in mind?"

"Gaya bener sih pake bahasa Inggris. Simple-nya gini, saya minta diberi kesempatan untuk bisa menghasilkan lebih banyak manfaat. Beri saya cukup tenaga, pengetahuan dan kesabaran supaya saya bisa selalu berusaha untuk menghasilkan yang terbaik."

"Buat apa? Biar diakuin oleh orang2?"

"Nggak. Cukup pengakuan situ aja yang penting buat saya. Kalo pun saya mau berjuang, moga-moga bisa menjadi inspirasi untuk orang lain, supaya selalu berusaha untuk memberi yang tebaik. Apa pun itu. Sekolah, kerjaan, olah raga, kehidupan, apapun."

"Ok. Approved."

"Ih, client banget sih gaya'nya."

"Hehehehe. Terus hari ini kamu mau kado apa?"

"Saya cuma punya satu permintaan."

"Name it."

"Bikin kehidupan ini lebih bahagia untuk semua orang."

Tininit... tininit... tininit... tininit.

"Pak... bangun. Sahur!" suara istriku kali ini terdengar jauh lebih merdu.

Monday, October 03, 2005

Ini Dadaku, Mana Dadamu?

"Ah... biasa..."
"Ngingetin sama ini ya..."
"Mirip nih sama anu!"
"Gak ada yang baru. Payah."
"Gimana mau maju?"
dst.....
dst....
dst...
dst..
dst.
dst
ds
t

Hhhh... (minjem ketawanya Cici Hoqi), kira-kira apa ya yang ada dalam isi kepalanya Mbak Pargy-nya Glenn? Ngeliat orang-orang pada komen ini komen itu. Dari ngalor sampe ngidul, hampir sama komentarnya. Hilir ke hulu, sami mawon. Kalo pun ada yang melakukan puja dan puji, itu hanya sekedarnya. Nggak jelas juga, muji karena emang kagum, sungkan atau nggak ngerti apa-apa.

Saya yang bukan siapa-siapa, cuma bisa godeg-godeg. Mau komen gak punya kapasitas. Mau ngusul gak punya kredibilitas. Mau nimbrung gak punya apa-apa. Ya udah, mending mingkem. Secara anak kemarin sore gitu lhow. "Siapa elo?" adalah pertanyaan menohok yang nggak mungkin bisa saya jawab.

Diam. Duduk manis. Sambil terus dan terus mencoba. Siapa tahu suatu saat bisa maju ke depan kelas dan mempertunjukkan nyanyian atau puisi baru yang bisa bikin orang terhibur. Saat itu baru saya punya keberanian mengajak kalian-kalian untuk mengunjukkan dada. Berminat? Yuuuk ya yuuuuk.

PS
Very much inspired by Glen's post.

Tuesday, September 27, 2005

BADAAAAAAI....!!!!!




"Eh, kalo diginiin asik gak?"
"Asik tuh... tapi masih plain. Diapain lagi gitu..."

Kosrak-kosrek bikin scetch di atas kertas kosong. Gambar dengan bentuk nggak jelas terbaca samar-samar.

"Tuh keren digituin."
"Iya... tapi kok ada yang kurang. Apa ya..."

Diam sejenak sekitar 3 menitan. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri.

"Ok. Kita punya A, punya B. A diwakilin ini, B diwakilin itu. Ketangkep nggak?"
"Buat gua sih jelas."
"Gua juga suka, tapi masih ada yang belum klik."

Kosrak-kosrek lagi.

"Kalo gini gimana? Lebih cepet nih..."
"Iya sih. Tapi gue ngerasa emosinya jadi kurang."
"Tapi lebih deket kan?"
"Iya. Tapi... ah... nggak tauk deh."
"Jangan gitu... ngomong aja. Bebas kok."
"Ya itu tadi. Masih kurang isinya."
"Hm... iya juga sih. Masih bisa dimainin lagi."

Diam lagi. Kosrak-kosrek lagi.

"Kalo pake icon lain bisa gini nih."
"Itu seru juga, ditambahin elemen ini aja."
"Boleh... biar dramatis dikit."
"Yoi... keren. Keren."
"Eh, tapi ini masih bisa dibalikin ke approach yang tadi."
"Iya ya. Lebih cepet dan lebih nonjok."
"Sip... sip."
"Nanti dibikin serial aja. Versi gini, versi gene, sama verso gono."
"Yoi... asik tuh. Tapi kalo direject gimana?"
"Ah, eksekusi aja ndiri. Sewa property, pinjem camera, digital printing. Kelar deh. Jadiin aja poster. Pasang di eventnya trus kirim."
"Siapa yang mo bayar? Mahal kan?"
"Saweran aja semua. Siapa yang nyawer, namanya masuk."
"Hahahaha... merek banget sih."
"Habis mo gimana lagi? Daripada nggak dieksekusi?"
"Iya juga sih..."
"Eh, tapi balik ke kerjaan ini dulu dong. Belum kelar nih."
"Hehehe... ok ok. Balik ke dunia nyata."

Tiiiiiit...........
Akhir dari sebuah session yang bisa mencairkan otak yang kerap buntu oleh deadline-deadline materi yang mepet.

...sampai ketemu di session berikutnya...

Cuiiiiit... (SFX listrik mati).

Thursday, December 23, 2004

Do You Believe In Soulmate?

Hingga beberapa saat yang lalu, saya sangat percaya dengan yang namanya soulmate. Seseorang yang menjadi belahan jiwa, seseorang yang melengkapi hidup kita, seseorang yang membuat hidup jadi lebih "bernyawa"... yang benar-benar connected dengan alam pikiran kita.

Tapi belakangan terminologi itu (soulmate) menjadi makin absurd. Saya jadi makin bingung memisahkan mana yang bisa disebut fenomena ke-soulmate-an... mana yang merupakan insting. Kebetulan saya dianugerahi kepekaan yang sedikit lebih banyak dibanding orang lain. Tapi saya belum berani menyebutnya sixth sense karena belum sekuat itu.

So... do you believe in soul mate? What makes you think that someone is your trully soulmate? C'mon... share with us.