"Mau kamu apa? Kamu nggak bisa kaya' gini. Kalau mau ngobrol ya ngobrol. Nggak usah pakai kasih gesture-gesture seolah-olah kamu butuh teman ngobrol, tapi saat aku menawarkan diri untuk mendengarkan semua keluh-kesah kamu... kamu langsung bersikap nggak butuh untuk didengarkan!"
"Terus terang... aku capek dengan kondisi seperti ini. Kamu bikin aku seperti berada dalam wilayah keragu-raguan. Begini salah, begitu makin salah, nggak begini dan nggak begitu... kamu sedih. Aku bukan dewa yang bisa baca pikiran kamu. Kalau kamu mau dimengerti, kamu juga harus paham bahwa pengertian itu datang dari komunikasi."
"Aku benar-benar nggak ngerti sama kamu. Kamu sendiri sadar kalau menggantungkan harapan pada sesuatu yang nggak pasti itu adalah kesia-siaan. Tapi sekarang kenapa sikap kamu menunjukkan seolah-olah aku yang selalu memaksa kamu untuk bergantung pada harapan semu itu?"
"Bisa membantu mengurangi beban kamu adalah hal yang membahagiakan buat aku. Tapi kamu nggak bisa berharap aku untuk terus care sama kamu sementara kamu sibuk sendiri dengan dunia kamu. Kamu sadar nggak kalau sikap kamu tuh memperlihatkan ketidakbutuhan kamu akan kehadiran aku. Bahkan untuk sekedar menjadi tempat pelampiasan kekesalan dan kepenatan kamu."
"Mau kamu apa jadinya? Ngomong dong... jangan cuma diam!"
Wajah Lastri tetap terperangah tidak mengerti apa yang diucapkan Samsul. Dia berusaha membaca setiap gerak bibir Samsul, tapi karena ucapannya begitu cepat memberondongnya... Lastri tak sanggup untuk mengikutinya.
Sejuta perasaan berkecamuk dan bergemuruh dalam dada Lastri. Ingin rasanya dia ucapkan semuanya. Tapi semenjak dia kehilangan indera pendengarannya 3 bulan silam, dia takut salah bicara. Yang keluar dari mulut Lastri cuma satu bisikan lirih, "Maaf...".
Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts
Tuesday, March 22, 2005
Monday, March 21, 2005
Dicubit Itu Nggak Enak Tauk !!!
Saat kecil, saya sering dicubit. Kebanyakan oleh orang tua, karena kenakalan dan kebandelan saya; juga oleh guru, lagi-lagi karena kenakalan dan kebandelan saya.
Intensita pencubitannya bermacam-macam. Paling ringan cuma meniggalkan bekas merah. Tapi bekas yang membiru dan bisa terlihat sampai 3 hari kemudian juga sering.
Saat bekas cubitan itu masih berwarna biru, merupakan saat yang paling tidak nyaman. Bekas cubitan itu masih menimbulkan rasa nyeri bisa terlibat kontak dengan benda lain (orang, binatan atau benda mati).
Setelah saya dewasa, cubitan biasanya diberikan oleh teman-teman wanita yang saya "kerjain" (konotasi positif lho ya... bukan negatif). Saking gemesnya, teman-teman yang saya "godain" (lagi-lagi konotasi positif) jadi nggak tahan dan kemudian mencubit saya. Bekasnya juga bermacam-macam, tergantung intensitas pencubitan.
Setelah beberapa waktu lewat tanpa penderitaan yang merupakan dampak dari pencubitan, tiba-tiba hari ini saya dicubit lagi. Anehnya, cubitan ini tidak saya rasakan pada bagian luar tubuh (kulit). Tapi di dalam.
Jelas tidak menimbulkan bekas eksternal. Tidak ada warna biru ataupun merah di permukaan kulit. Anehnya, sakitnya malah lebih sakit. Oleh salah seorang pencipta lagu dangdut malah diibaratkan lebih parah dari sakit gigi.
Cubitan itu begitu lembut, pelan... tapi benar-benar menusuk. Dalam. Dingin. Tanpa belas kasihan. Sialnya lagi, orang yang mencubit ini nggak sadar kalau hal yang dia lakukan (saya yakin dia tidak bermaksud apa-apa dengan tindakannya itu) atas dasar kejujuran... sebenarnya malah membuat saya tercubit.
Rasanya saya mau menelan 10 butir Ponstan 500mg sekaligus, biar rasa sakit itu bisa terbunuh. Tapi hal ini bisa merugikan individu-individu terdekat yang saya cintai.
Saat ini saya cuma bisa teriak (meskipun saya yakin, orang yang mencubit saya ini nggak akan bisa mendengarkan teriakan saya) kalau DICUBIT ITU NGGAK ENAK TAUK !!!
Tulisan ini juga saya posting di bucin.multiply.com.
Intensita pencubitannya bermacam-macam. Paling ringan cuma meniggalkan bekas merah. Tapi bekas yang membiru dan bisa terlihat sampai 3 hari kemudian juga sering.
Saat bekas cubitan itu masih berwarna biru, merupakan saat yang paling tidak nyaman. Bekas cubitan itu masih menimbulkan rasa nyeri bisa terlibat kontak dengan benda lain (orang, binatan atau benda mati).
Setelah saya dewasa, cubitan biasanya diberikan oleh teman-teman wanita yang saya "kerjain" (konotasi positif lho ya... bukan negatif). Saking gemesnya, teman-teman yang saya "godain" (lagi-lagi konotasi positif) jadi nggak tahan dan kemudian mencubit saya. Bekasnya juga bermacam-macam, tergantung intensitas pencubitan.
Setelah beberapa waktu lewat tanpa penderitaan yang merupakan dampak dari pencubitan, tiba-tiba hari ini saya dicubit lagi. Anehnya, cubitan ini tidak saya rasakan pada bagian luar tubuh (kulit). Tapi di dalam.
Jelas tidak menimbulkan bekas eksternal. Tidak ada warna biru ataupun merah di permukaan kulit. Anehnya, sakitnya malah lebih sakit. Oleh salah seorang pencipta lagu dangdut malah diibaratkan lebih parah dari sakit gigi.
Cubitan itu begitu lembut, pelan... tapi benar-benar menusuk. Dalam. Dingin. Tanpa belas kasihan. Sialnya lagi, orang yang mencubit ini nggak sadar kalau hal yang dia lakukan (saya yakin dia tidak bermaksud apa-apa dengan tindakannya itu) atas dasar kejujuran... sebenarnya malah membuat saya tercubit.
Rasanya saya mau menelan 10 butir Ponstan 500mg sekaligus, biar rasa sakit itu bisa terbunuh. Tapi hal ini bisa merugikan individu-individu terdekat yang saya cintai.
Saat ini saya cuma bisa teriak (meskipun saya yakin, orang yang mencubit saya ini nggak akan bisa mendengarkan teriakan saya) kalau DICUBIT ITU NGGAK ENAK TAUK !!!
Tulisan ini juga saya posting di bucin.multiply.com.
Friday, March 18, 2005
Dia Laki-Laki Keturunan (CERSANGPEN: cerita sangat pendek)
Dia laki-laki keturunan. Perawakannya tinggi agak kurus. Kehadirannya rutin, sebulan sekali. Tak banyak bicara memang dia. Ketika datang pun dia langsung masuk ke ruangan kerja yang disediakan, tanpa basa-basi sedikitpun. Setelah menutup pintu, kegiatannya sehari penuh adalah duduk di depan komputer yang monitornya membelakangi jendela (kami tak pernah bisa melihat jelas apa yang dia kerjakan).
Dia laki-laki keturunan. Dari penampilan fisiknya bisa ditebak, dia keturunan Tionghoa. Apakah dia bisa berbicara bahasa Mandarin... atau kah Kanton? Tak ada yang pernah tahu dengan pasti. Orang-orang yang dekat dengan dia pun cuma segelintir. HRD dan Finance Director. Sudah! Itu saja "teman"-nya.
Dia laki-laki keturunan. Kemeja putih dan celana panjang hitam adalah pakaian favoritnya. Tanpa dasi, tanpa jas. Hanya kemeja dan celana. Rambutnya haya disisir sekenanya, bahkan cenderung agak berantakan. Minyak wangi dan gel rambut merupakan hal yang tak pernah terlibat dalam kesehariannya.
Dia laki-laki keturunan. Sosoknya begitu misterius. Tak ada yang tahu siapa namanya, di mana dia tinggal, atau informasi apa pun tentangnya. Seperti sudah saya bilang, tak ada yang pernah berbincang-bincang dengannya.
Dia laki-laki keturunan. Selama hampir 7 bulan saya menempati kantor baru ini, tak pernah sekali pun ada yang mencari-cari dia. Ketidakhadirannya tak menimbulkan pertanyaan. Ketidakhadirannya tak memancing keingintahuan orang-orang. Sepertinya tak ada yang peduli terhadapnya. Tapi... entah lah, setiap dia datang... biasanya membawa kebahagiaan tersendiri. Kehadirannya membawa rasa aman. Keberadaannya memberi makna bahwa pekerjaan yang saya, teman saya... kami semua lakukan... tidak lah sia-sia.
Dia laki-laki keturunan. Ya... dia memang laki-laki keturunan yang tugasnya cuma satu: mentransfer gaji ke rekening karyawan secara elektronik melalui internet-banking. Itu saja. Dan saat ini, saya sedang tersenyum melihat dia bekerja dengan serius. Saya tersenyum membayangkan hari Senin siang minggu depan, angka-angka dalam rekening tabungan saya sudah bertambah jumlahnya.
Terima kasih wahai laki-laki keturunan.
Dia laki-laki keturunan. Dari penampilan fisiknya bisa ditebak, dia keturunan Tionghoa. Apakah dia bisa berbicara bahasa Mandarin... atau kah Kanton? Tak ada yang pernah tahu dengan pasti. Orang-orang yang dekat dengan dia pun cuma segelintir. HRD dan Finance Director. Sudah! Itu saja "teman"-nya.
Dia laki-laki keturunan. Kemeja putih dan celana panjang hitam adalah pakaian favoritnya. Tanpa dasi, tanpa jas. Hanya kemeja dan celana. Rambutnya haya disisir sekenanya, bahkan cenderung agak berantakan. Minyak wangi dan gel rambut merupakan hal yang tak pernah terlibat dalam kesehariannya.
Dia laki-laki keturunan. Sosoknya begitu misterius. Tak ada yang tahu siapa namanya, di mana dia tinggal, atau informasi apa pun tentangnya. Seperti sudah saya bilang, tak ada yang pernah berbincang-bincang dengannya.
Dia laki-laki keturunan. Selama hampir 7 bulan saya menempati kantor baru ini, tak pernah sekali pun ada yang mencari-cari dia. Ketidakhadirannya tak menimbulkan pertanyaan. Ketidakhadirannya tak memancing keingintahuan orang-orang. Sepertinya tak ada yang peduli terhadapnya. Tapi... entah lah, setiap dia datang... biasanya membawa kebahagiaan tersendiri. Kehadirannya membawa rasa aman. Keberadaannya memberi makna bahwa pekerjaan yang saya, teman saya... kami semua lakukan... tidak lah sia-sia.
Dia laki-laki keturunan. Ya... dia memang laki-laki keturunan yang tugasnya cuma satu: mentransfer gaji ke rekening karyawan secara elektronik melalui internet-banking. Itu saja. Dan saat ini, saya sedang tersenyum melihat dia bekerja dengan serius. Saya tersenyum membayangkan hari Senin siang minggu depan, angka-angka dalam rekening tabungan saya sudah bertambah jumlahnya.
Terima kasih wahai laki-laki keturunan.
Friday, March 04, 2005
Dalam Dentuman Kulihat Dia
Asiiiiik ntar malem dugem lagi. "Fear No Deadline" di BC Bar. Ratusan orang dari komunitas periklanan berkumpul dalam satu suasana yang penuh hingar bingar, alkohol, tembakau, si biru mungil dan dentuman seperangkat sistem suara.
Entah kenapa... suasana seperti itu membuat saya sangat mudah berkontemplasi. Dalam kegelapan, dalam siraman lampu warna-warni, dalam hentakan di dada akibat terhantam suara berfrekwensi rendah dari subwoofer... saya begitu mudah melayang. Terbang... tinggi... semakin tinggi... mencapai keheningan. Di situ saya menemukan jejeran asma berdiri berbaris rapi. Satu persatu keseluruhan 99 asma itu memancarkan sinar terang menghangatkan tapi tidak menyilaukan. Ketika semua sinar berkumpul, saya sudah berada di suatu tempat nan indah. Berlantai cahaya berlangitkan ketakterbatasan. Tapi langit-ketakterbatasan itu berwarna biru cenderung hijau, berbaur dalam gradasi yang sempurna dan seimbang.
Di situ cuma ada aku dan Aku. Ku sapa Dia. Dia diam dan tersenyum. Senyuman sederhana namun memiliki sejuta makna. Ku hampiri dia... namun aneh, jarak yang hanya beberapa langkah itu seakan tak bergeming. Tak perduli secepat apa saya berlari.... jarak kita tetap sama. Tetap dekat tapi tak terjangkau. Saat saya mencoba menjangkau Dia... tiba-tiba seolah tersedot pusaran air, saya terhisap dalam kumparan nan gelap. Dalam sekedipan mata saya sudah berada kembali di tengah-tengah keramaian.
Biasanya perjalanan itu diakhiri dengan ucapan "Sori..." dari seseorang tepat di sebelah saya tapi tidak saya kenal. Setelah mengucapkan permohonan maafnya, orang itu kemudian berlalu dan menghilang di rumpunan tubuh-tubuh manusia yang menyemut.
... dan lampu tetap bekerlap-kerlip... musik pun tetap berdentum. Tapi saya kehilangan kesendirian saya yang penuh arti.
Sampai ketemu nanti malam teman-teman...!
Entah kenapa... suasana seperti itu membuat saya sangat mudah berkontemplasi. Dalam kegelapan, dalam siraman lampu warna-warni, dalam hentakan di dada akibat terhantam suara berfrekwensi rendah dari subwoofer... saya begitu mudah melayang. Terbang... tinggi... semakin tinggi... mencapai keheningan. Di situ saya menemukan jejeran asma berdiri berbaris rapi. Satu persatu keseluruhan 99 asma itu memancarkan sinar terang menghangatkan tapi tidak menyilaukan. Ketika semua sinar berkumpul, saya sudah berada di suatu tempat nan indah. Berlantai cahaya berlangitkan ketakterbatasan. Tapi langit-ketakterbatasan itu berwarna biru cenderung hijau, berbaur dalam gradasi yang sempurna dan seimbang.
Di situ cuma ada aku dan Aku. Ku sapa Dia. Dia diam dan tersenyum. Senyuman sederhana namun memiliki sejuta makna. Ku hampiri dia... namun aneh, jarak yang hanya beberapa langkah itu seakan tak bergeming. Tak perduli secepat apa saya berlari.... jarak kita tetap sama. Tetap dekat tapi tak terjangkau. Saat saya mencoba menjangkau Dia... tiba-tiba seolah tersedot pusaran air, saya terhisap dalam kumparan nan gelap. Dalam sekedipan mata saya sudah berada kembali di tengah-tengah keramaian.
Biasanya perjalanan itu diakhiri dengan ucapan "Sori..." dari seseorang tepat di sebelah saya tapi tidak saya kenal. Setelah mengucapkan permohonan maafnya, orang itu kemudian berlalu dan menghilang di rumpunan tubuh-tubuh manusia yang menyemut.
... dan lampu tetap bekerlap-kerlip... musik pun tetap berdentum. Tapi saya kehilangan kesendirian saya yang penuh arti.
Sampai ketemu nanti malam teman-teman...!
Monday, February 28, 2005
Sudikah Puan
saat jutaan buih rasa
menggulung hamba dalam kerinduan
menghempas segala
entah selaksa
entah sedepa
entah hingga hilir
tiada tergenggam hamba meraih
tiada terucap hamba berujar
saat ratusan buih rasa
memaksa lorong leher
meneguk cinta yang tak terbendung
sudikah puan
menghancurkan palang benci
agar menetes hangat kasih
biar badai ini bisa mereda
galau dan khawatir
pergi melipir tersisir
sepatutnya pun menghilang
tenggelam di dasar
muara cinta yang terbuang
Monday, December 13, 2004
Mentari
mentari
berjalan tak tahu ke mana
setapak demi setapak
hadirkan wujudnya nan indah
namun hampa terasa
meraba mencari pijak
pasti kah aku di sini?
dan hati terus bertanya... ini kah jalanku?
mentari hilang
menyisakan sejuta tanya, mengapa
mentari hilang
merenggut cinta kasih dunia
hingga tiba saat nanti
nalar dan hati bertentangan
coba hidupkan yang tersisa
Friday, December 10, 2004
Hening
hening 1
========
hening...
temani aku malam ini
lewati waktu yang berjalan terlalu lama
isi jiwaku dengan ruh mu
karena aku takut sendiri
tolong usir sepiku
karena hampa ini terlalu tajam
hening... bisikkan padanya
saat ini aku butuh dia
hening 2
========
hening
bantu aku
teriakkan satu nama
yang selalu datang
dalam tidurku, sadarku, gerakku, diamku, anganku, nyataku
satu nama yang sangat sederhana
terangkai dari empat abjad indah
menyatu dalam asa
tersimpan dalam diam
Friday, December 03, 2004
Sudah Dua Hari
dua hari sudah
aku tak melihatmu
mencium wangi parfummu
membelai lembut rambutmu
dua hari sudah
kita tak saling menatap
berbagi senyum
atau bertukar rasa
dua hari sudah
kupendam asa
untuk bisa
terus memelukmu
dua hari sudah
hariku berjalan lambat
menapak detik demi detik
tertatih letih
dua hari sudah
tapi mengapa
terasa
sudah terlalu lama?
Separated
di sini sendiri
entah berapa yang hadir
namun semua semu
hanya bayang berlalu
di sana juga sendiri
entah… apa yang terlintas
dalam benak dan khayal
penuh mimpi dan angan
aaah… andai saja aku bisa terus di sana
menemani setiap kepak sayapmu
mengisi tiap detik mimpimu
memenuhi wadah hidupmu
menghilangkan dahaga perihmu
menghapus legam pedihmu
dan…
tak perlu lagi susah ini
tak ada lagi duka ini
tak mesti lagi sedih ini
maka,
ijinkan aku untuk tetap mencintaimu
cukuplah…
berikan aku satu senyum saja
bahwa kau juga bahagia
dengan tetap mencintai aku
selamanya…
Mourning Morning
selamat pagi dunia
kenapa kau berduka
dimana mentari?
yang biasa hangatkan pagi
kemana lembayung?
yang kerap bersenandung
apakah kau juga rasakan
duri duka hatiku?
Monday, November 29, 2004
Chatting Makes Poem
Ceritanya waktu itu gw lagi chat sama Wury. Kebetulan kita lagi pas gak banyak kerjaan. Karena bosen ngobrol yang nggak penting, kita memutuskan untuk menulis secara bergantian. It turns out to be fun u know. Nggak ada judul, nggak ada plot. Semuanya refleks, keluar begitu aja. Ini hasilnya...
man_from_crypton: biru meliput langit
Wullie wullie: awan membias bebas
man_from_crypton: kulepas pandang menyambut mentari
man_from_crypton: penuh harap akan hari...
man_from_crypton: menyisakan kehangatan cinta tadi malam
man_from_crypton: aku berlari, dengan segenap kekuatan hati
man_from_crypton: mengejar kasih yang terus melaju
wullie wullie: kasih, tunggu aku!
wullie wullie: Tapi ia berlalu jauh
man_from_crypton: terhenyak tersentak ku berhenti
man_from_crypton: terhadang akan kenyataan
wullie wullie: aku, ... masih tetap di sini.
wullie wullie: sendiri....
man_from_crypton: menunduk aku, bumi tertatap
wullie wullie: Mungkin, ... belum saatnya.
wullie wullie: Belum saat aku menangguk kasih
man_from_crypton: sejuk gerimis perlahan turun
man_from_crypton: bangunkan aku dari mimpi buruk
wullie wullie: tersenyum aku melihat diri terpuruk
man_from_crypton: hanya oleh cinta sesaat
wullie wullie: tapi aku bahagia,
wullie wullie: paling tidak aku sempat merasa
Wednesday, November 17, 2004
Sepiiiiiiiii
Dalam sepi terdengar sunyi
Kesunyian yang membelah hati
Memisahkan aku dari dunia
Mempertemukan aku dengan sang AKU
Temukan kesunyianmu
Karena sunyiku dan sunyimu
Adalah beda
Temukan kesunyianmu
Karena hanya sunyimu dan sunyiMU
Yang bisa bertemu
Pahami hakikat kesunyianmu
Jangan terbuai realitas
Karena itu tak lebih dari kesemuan
Menyeret kita dari kesesungguhan
Saat engkau bisa menemukan kesunyianMU
Maka tiada lagi hampa itu
Karena DIA selalu mengisi
Tak ada lagi kekurangan ini
Karena sang AKU selalu melengkapi
Temukan kesunyianmu
Dalam kesendirianmu
Bahkan di tengah keramaian sekalipun
Nighty night

Ini puisi yang diilhami oleh seseorang yang pernah membuat dunia lebih berwarna-warni, langit lebih biru, angin lebih segar, matahari lebih hangat. Orang ini sangat membenci malam. Setelah gw tanya, penjelasan dia kurang lebih seperti ini:
aku benci malam!
saat dia datang perlahan
lembut
namun penuh kepastian
buramkan sinar kebahagiaanku
gelapkan cahaya keceriaanku
menyeretku jauh
ke dalam sumur kehampaan
aku benci malam!
ketika dengan keangkuhannya
dia merangkul sepiku
membuai sedihku
benci
kesal
kuteriakkan saja makiku
biar dia pergi
kelam, suram
putus asa
ketika realita menghantam
kenyataan membungkam
ku terdiam
karna... semakin kuelakkan
semakin kuat dia memelukku
AKU BENCI MALAM!!!
EL - O - VE - E
Looove melulu. Huehuehue... sebenernya bukan sedang diseliputi semangat romantika. Tapi mau share beberapa tulisan yang pernah gw bikin. Soalnya temen gw komplen. Katanya blog gw sepi. Makanya gw bikin kaya' dikejar setoran gini huahahahha....
well then, enjoy.
cinta…
kulepaskan dia berkelana
dalam tiap relung hati
mencari tempat terbaik
untuknya bersemayam
bahkan dalam sudut
yang paling gelap
satu sisi jiwa
yang tersembunyi
ku takkan khawatir
karna cinta kan bertahan
dengan cahayanya abadi
bersinar dan menghangatkan
maka…
meski dia terdiam
menikmati kesendiriannya
dalam keheningan sejati
dia slalu miliki arti
karna dia adalah cinta…
terbaik dari yang terbaik
akan slalu menemani
hingga matahari padam
Crazy Little Thing Called LOVE
It's funny you know... this crazy little thing can caused a huge difference in human life. Well... we're all agree that love is pure rite? Namun cinta itu juga berpagar aturan-aturan. Sayangnya, cinta tidak bisa memilih. Kadang ia datang di saat dan pada orang yang tak terduga. Betapa banyak cerita cinta yang berakhir pedih. Romeo & Juliet, Siti Nurbaya, Ken Arok, trus... lupa :p. Anyway, love... is surely a crazy little thing that have the greatest impact in the history of mankind.
andai cinta bisa memilih,
kuberikan pada-NYA
pada dia yang mencintaiku sepenuh jiwa
kuserahkan sepenuhnya pada bumi ini
pada kehidupan yang akan terus berjalan
untuk seluruh manusia, demi kedamaian
namun…
cinta bukan hadiah, bukan belas kasihan
yang bisa diserahkan
pada siapapun yang kita mau
dengan alasan apa saja
logika, nalar, budaya, hukum, aturan, adat… apapun namanya
takkan pernah bisa mengikat cinta
cinta begitu bebas
datang saat diacuhkan
menghilang saat dibutuhkan
berkembang di musim kemarau
layu di musim hujan
indah, penuh bahagia, senyum, riang-gembira, ceria…
apakah itu arti cinta?
ternyata cinta juga menyimpan kegetiran, kegelisahan, keresahan, kecemasan dan ketakutan
dia bisa mengikat begitu erat… bahkan untuk bernafas pun sulit
tapi, dia juga bisa melepaskan semua penat dan kelelahan akan beban hidup
membawa kita membumbung tinggi menembus langit ke-7
namun dalam sesaat, menghempaskan kita kembali ke bumi
begitu pelikkah cinta?
mengapa ia begitu sulit dimengerti…
tapi, ku tersentak
karna cinta memang bukan untuk dimengerti
cinta adalah untuk dirasakan dan dinikmati
kubiarkan ia mengalir dalam setiap denyut nadi
dalam setiap degup jantung
dalam setiap tarikan nafas
hingga ia bisa memberi makna akan hakikat kebahagiaan
dalam setiap detik yang berlalu
I Love You But I Hate You
Ever heard bout love-hate relationship? It's a thing that when you love someone so much that it brings the negative part of yourself. This negative part oftenly creates new fight. But weirdly, after the fight you felt like the bond between you and your partner is getting stronger. Kinda confusing huh? But it happened. Here's the story about love & hate relationship.
amarah kita
selalu bakar diriku
ludahkan api kebencian
akan dirimu
amarah kita
membenam sadarku
muntahkan caci maki
akan dirimu
amarah kita
juga bangkitkan
kedekatan batinku
akan dirimu
amarah kita
semakin mengikat
rindu terdalamku
akan dirimu
Thursday, November 11, 2004
The world's mourning.
Dunia berduka. Salah satu pejuang gigih telah wafat. Yaser Arafat. Tapi jangan berhenti. Perjuangan masih panjang. Semoga suatu saat Palestina bisa menjadi negara yang benar-benar merdeka. Semoga.