Nggak ada maksud untuk menjelekkan suatu karya. Nggak juga berminat menanyakan siapa meniru siapa. Saya juga bukan siapa-siapa yang punya kredibilitas membahas kerjaan orang. Ini sekedar menunjukkan bahwa faktor kebetulan itu sangat besar kemungkinan terjadinya dalam industri periklanan.
2 iklan, klien yang sama, negara berbeda.
The commercial titled Ivory was done by OGILVY & MATHER THAILAND, Bangkok advertising agency for WWF (WWF company) in Thailand. It was released in the September 2010.
--Dikutip dari situs asal.--
Karya dari Bates 141 Jakarta, di-post oleh Iklan Indonesia tanggal 8 September 2010.
Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts
Wednesday, September 08, 2010
Thursday, September 02, 2010
Wisata Kuliner Ke Cirebon
Dalam rangka ulang tahun istri bulan Mei lalu, kami (saya, istri dan ade Zahra; kakaknya nginep di rumah temannya) mengunjungi Cirebon. Karena blog ini baru aktif kembali, laporannya baru muncul sekarang deh hehehe.
Daftar jajanan yang wajib kunjung ternyata lumayan banyak. Dari total 30-an tempat, kami cuma sempat mendatangi hm.... 6.
Berikut ulasannya.
Hotel Sare Sae
Terletak di daerah strategis, Jl. Siliwangi No. 70. Tarif ekonomis (sekitar Rp 300.000,-/malam).
Daftar jajanan yang wajib kunjung ternyata lumayan banyak. Dari total 30-an tempat, kami cuma sempat mendatangi hm.... 6.
Berikut ulasannya.
Hotel Sare Sae
Terletak di daerah strategis, Jl. Siliwangi No. 70. Tarif ekonomis (sekitar Rp 300.000,-/malam).
Sepeda Lipat? Itu Biasa. Ini Gitar Lipat!
Melihat dari bentuk fisiknya, gitar ini menawarkan sebuah terobosan baru untuk gitaris yang masih ngangkut sendiri peralatannya. Gitaris seperti ini biasanya yang sekedar hobby atau mereka yang baru merintis. Untuk gitaris kawakan, masalah dalam pengangkutan biasanya sudah ditangani oleh roadies. Gitaris-gitaris profesional yang sudah kawakan biasanya cukup berangkat, datang, main, pulang.
Untuk Yang Doyan Jajan
Nggak sengaja dapat link ini dari tweet seorang teman. Bagai mendapat durian runtuh, ini dia sumber yang akan sangat membantu memenuhi dahaga saya dalam berburu jajanan murmer.
Friday, June 20, 2008
Murmer - Kemewahan Jajanan Kelas Menengah
Masalah selera memang sulit untuk ditawar. Kalau sudah suka, bisa selamanya jadi fanatik. Sekalinya nggak suka, mau dirayu kaya' apa juga nggak bakal mempan.
Pete misalnya. Istri saya adalah pengagum berat jenis makanan ini (ngomong-ngomong pete itu masuk dalam kategori sayur atau buah ya?). Saya yang sudah terlanjur nggak doyan, sampai kapan juga nggak bakal doyan sama pete. Biarpun istri saya bilang kalau dibalado rasa pete'nya hilang, saya tetap teguh kukuh berlapis baja nggak akan mau nyobain pete' untuk yang kedua kalinya (sekedar penegasan bahwa saya bukan fanatik buta anti pete' hehehe).
Sedangkan saya sendiri, adalah seorang penggemar soto. Soto Makassar (kalau kata orang sana, coto, bukan soto), soto Madura, soto Surabaya, soto Betawi, dan segala macam soto lainnya. Tapi favorit saya adalah soto Surabaya dan coto Makassar. Bukan karena kebetulan ibu saya orang Surabaya dan bapak saya orang Makassar, tapi nggak tahu gimana, dua jenis soto ini paling bisa bikin saya termehek-mehek. Ngendus baunya aja udah bisa nebak soto itu enak apa nggak.
Di Jakarta ini agak-agak susah nyari soto Surabaya yang lumayan pol (baca: full; red.) enaknya. Tapi saya beruntung sekali. Secara kebetulan waktu itu jalan-jalan sendirian ke Menteng, saya menemukan penjaja soto Surabaya yang rasanya; buat saya; uenak tenan. Posisinya persis di samping Bank Lippo, agak ke belakang.
.jpg)
Lima belas ribu rupiah. Semangkok soto + air minum botolan. Ayamnya buanyak. Harga segitu mahal? Murah? Relatif, dari sudut mana Anda melihatnya. Tapi buat saya dengan rasa yang saya dapatkan, harganya sangat pantas. Bahkan sangat murah kalau dibandingkan dengan harus membeli soto Surabaya asli di Surabaya sana (ya iya lah, masa' ya iya dong; kan Mulan Jamilah, bukan Mulan Jamidong --> ini becandaannya Indri, temen kantor saya).
Jadi, kalau kebetulan lagi main ke Menteng, sempatkanlah untuk mencoba soto Surabaya ini. Barangkali kita memiliki selera yang sama, boleh kapan-kapan kita kongkow-kongkow bareng menikmati makan malam sambil dihibur musisi jalanan yang di malam-malam tertentu penyanyinya bersuara bagus.
Pete misalnya. Istri saya adalah pengagum berat jenis makanan ini (ngomong-ngomong pete itu masuk dalam kategori sayur atau buah ya?). Saya yang sudah terlanjur nggak doyan, sampai kapan juga nggak bakal doyan sama pete. Biarpun istri saya bilang kalau dibalado rasa pete'nya hilang, saya tetap teguh kukuh berlapis baja nggak akan mau nyobain pete' untuk yang kedua kalinya (sekedar penegasan bahwa saya bukan fanatik buta anti pete' hehehe).
Sedangkan saya sendiri, adalah seorang penggemar soto. Soto Makassar (kalau kata orang sana, coto, bukan soto), soto Madura, soto Surabaya, soto Betawi, dan segala macam soto lainnya. Tapi favorit saya adalah soto Surabaya dan coto Makassar. Bukan karena kebetulan ibu saya orang Surabaya dan bapak saya orang Makassar, tapi nggak tahu gimana, dua jenis soto ini paling bisa bikin saya termehek-mehek. Ngendus baunya aja udah bisa nebak soto itu enak apa nggak.
Di Jakarta ini agak-agak susah nyari soto Surabaya yang lumayan pol (baca: full; red.) enaknya. Tapi saya beruntung sekali. Secara kebetulan waktu itu jalan-jalan sendirian ke Menteng, saya menemukan penjaja soto Surabaya yang rasanya; buat saya; uenak tenan. Posisinya persis di samping Bank Lippo, agak ke belakang.
.jpg)
Lima belas ribu rupiah. Semangkok soto + air minum botolan. Ayamnya buanyak. Harga segitu mahal? Murah? Relatif, dari sudut mana Anda melihatnya. Tapi buat saya dengan rasa yang saya dapatkan, harganya sangat pantas. Bahkan sangat murah kalau dibandingkan dengan harus membeli soto Surabaya asli di Surabaya sana (ya iya lah, masa' ya iya dong; kan Mulan Jamilah, bukan Mulan Jamidong --> ini becandaannya Indri, temen kantor saya).
Jadi, kalau kebetulan lagi main ke Menteng, sempatkanlah untuk mencoba soto Surabaya ini. Barangkali kita memiliki selera yang sama, boleh kapan-kapan kita kongkow-kongkow bareng menikmati makan malam sambil dihibur musisi jalanan yang di malam-malam tertentu penyanyinya bersuara bagus.
Wednesday, January 30, 2008
Iklan Dan Politik

Waaah mimpi apa ini. Seumur-umur belum pernah menulis review untuk sebuah buku, tiba-tiba dapat kesempatan emas dari boss... sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan. Kalau Anda menemukan banyak sekali kekurangan, tolong jangan sungkan menegur. Terima kasih buat semua yang rela menyisihkan waktu untuk membaca.
Gambar di atas adalah cover bukunya, ulasan bisa dilihat di sini.
Tuesday, February 13, 2007
D'Cost - A seafood resto that cost you almost nothing.
"Mutu bintang lima, harga kaki lima." begitu claim dari restoran sea food yang terletak di bilangan Kemang ini. Membaca teks yang terpampang besar di koridor atap gedung restoran ini membuat bibir saya tercibir. "Kok tega-teganya bohongin orang ampe majang copy segede gambreng" kata saya dalam hati.
Masuk ke dalam, kesan bersih sangat terasa. Interior yang didominasi warna terang ditambah sistem penyejuk ruangan yang memadai membuat suasana begitu nyaman. Pengunjung yang datang cukup ramai untuk hari kerja (Senin). Hampir semua tempat terisi.
Sampai di meja, makanan sudah terhidang (secara acara ulang tahun temen kantor). Ada kepiting, cumi, ikan, kerang (secara ini adalah restoran sea food gitu loh) plus sayur-sayuran. Untuk rasa, ternyata lumayan menggoyang lidah. Nggak butuh waktu panjang, semua hidangan ludes. Sambil menunggu sajian penutup es kelapa muda, saya iseng baca menunya. JENG JENG! Harganya hampir nggak masuk akal. Nasi putih cuma seceng dan bebas nambah. Teh tawar: CEPEK! Asli, cuma seratus perak! Teh Botol pun cuma CENGGO. Untuk hidangan utama juga nggak kalah murah. Menu spesial hari itu udang galah bakar/goreng dihargai NOBAN per porsi (isi 4 ekor). AJAIB!
Di saat 'susah' seperti ini, rasanya senang sekali masih ada tempat makan nyaman dengan harga sangat terjangkau. Buat yang belum pernah ke sana, beneran deh. You just have to try this place. Tapi siap2 ngantri kalo dateng saat weekend. Menurut kabar, tempatnya penuh sesak. Demi kenyamanan mending datang di hari kerja.
Selamat mencoba!
Friday, February 09, 2007
Long Road To Perfection

Mari berkaca! Itu kesan yang saya dapat setelah melihat film ini. Bagaimana kita bisa melihat sebuah tragedi dan kemudian menarik pembelajaran daripadanya (weh, gaya bahasa apa pula ini hahahaha). Dari dialog2 yang terbangun, dari ekspresi2 yang muncul, dari konflik2 yang terbangun, semua mengajarkan kita satu hal: INTROSPEKSI. Jangan terlalu gegabah menilai, jangan pula terlalu cepat membela. Semua yang terjadi pasti ada kaitannya satu sama lain dan tidak terjadi begitu saja.
Setelah menonton LRTH, kita bisa mengerti bagaimana sempitnya pola pikir para pelaku hingga tega melakukan. Setelah menonton kita juga dicubit dengan kenyataan bahwa Bali sekarang bukan lagi milik kita. Bali tak lebih dari sebuah pulau sarana komoditas bagi para turis. Setelah menonton kita bisa lebih bijak untuk tidak menjadi prejudis terhadap "bule-bule". Bahwasanya kebaikan maupun kejahatan bisa hadir dari siapa saja.
Adalah sebuah gebrakan yang cukup berani dari Kalyana Shira Films untuk mengangkat tema ini. Sementara produser2 lain sedang asik masyuk dengan tema percintaan maupun perhantuan, KSF hadir dengan tema yang sarat dengan kontroversi, isu yang sensitif serta nilai-nilai kemanusiaan. Keberanian yang patut diacungi jempol.
Namun layaknya film2 lokal (duh, kok terkesan tendensius gini ya? hehehe), film ini pun tak lepas dari kekurangan (secara film Hollywood aja masih ada bolong2nya). Alur cerita yang datar, musik score yang kurang mampu membangun emosi, intonasi bicara yang masih terkesan "acting", art direction yang ala kadarnya (terutama saat nonjolin korban2 serta kejadian setelah ledakan). Balik2 lagi biasanya biaya adalah kendala nomor satu. Nggak bisa dihindari memang. Kualitas biasanya menuntut biaya besar. Tapi oke lah, secara ini film Indonesia, banyak hal yang bisa dimaklumi.
Dibalik itu semua, film ini patut dihargai sebagai sebuah bentuk pendobrakan atas dominasi pop culture. Untuk mengobati mereka yang kecewa, anggap saja beramal (sebagian hasil dari penjualan tiket disumbangkan ke YKIP). Toh ada hal2 menarik yang bisa menghibur kita seperti dialog antara Alex Komang & Raelee Hill:
RH, "I pay you 300 dollar, but that's it."
AK, "Ok, but only till 6 o'clock."
RH, "Australian Dollar's fine?"
AK, "American Dollar would be better."
Hahahahaha... secara di Bali apa2 matok harganya pakai Dollar Amerika.
Banyak lagi percakapan2 lain. Lucu, menyentuh, menyentil, menyindir.
Jadi, nggak usah repot2 ngaca sebelum pergi nonton film ini. Nanti juga di bioskop bakal banyak berkaca, meski gelap.
Monday, April 03, 2006
Dua Kutub Magnet -- KLa 5enses
3 jam menjadi penikmat konser KLa, membawa banyak hal buat saya. Selain hiburan rohani berupa lagu-lagu, saya juga sempat menikmati hiburan jasmani dari para penonton yang datang. Komunitas yang bukan heterogen membuat gaya-gaya penonton bisa dibilang "masuk" dengan selera idaman saya.
Di luar itu, ada hal menarik untuk saya renungkan. Sebuah nilai pembelajaran bahwasanya usia memang nggak bisa bohong. Mau bedandan seperti anak jaman sekarang, mau dengerin lagu-lagu masa kini, tetep aja yang namanya karakter nggak bisa diganti. Kalo pun mau dicoba untuk berubah, yang ada malah maksa. Hal ini lah yang terjadi pada konser KLa Senses.
18 tahun berkiprah di industri musik, buah karya seniman yang dahulu remaja ini sudah diakui dan tak perlu pembuktian lagi. KLanis (istilah untuk para penggemar KLa) yang dahulu ranum-ranum kini tak lagi nikmat dikulum. Perjalanan waktu secara otomatis mendewasakan mereka (setidaknya segi usia). Kedewasaan ini tampaknya belum mampu ditangkap oleh KLa. Entah kenapa, saat orang banyak melakukan penyempitan pasar (biar lebih fokus), KLa malah berusaha untuk meng-grab pasar seluas mungkin. Akibatnya KLa kehilangan kesejatian mereka. Dari sebuah grup yang sederhana, lagu yang sederhana dengan lirik yang puitis, KLa seolah mencoba bermetamorfosis menjadi grup yang glamorous (mungkin karena pertimbangan nama besar).
Dari sekitar 18 lagu yang dibawakan (kalo gak salah hitung lho ya), KLa mencoba memberi sentuhan aransemen baru di setengah porsi pertunjukan mereka. Tapi sayangnya, karakter KLa yang sudah kuat terbentuk malah nggak masuk dengan semangat masa kini yang coba diangkat dengan mengandalkan dua personil muda; Harry (drum) & Yul (gitar). Hadirnya dua bintang tamu generasi masa kini (ta'elah istilahnya huahahaha) Andi /rif & Dewi Sandra akhirnya malah seolah-olah jadi daya tarik tersendiri yang justru mengalahkan pamor Katon yang malam itu entah kenapa memilih aksi panggung seatraktif Nugie; adiknya; (haloooow... Katon, u there dude? What the hell were u tryin to do man?).
Adalah merupakan bentuk keindahan malam itu saat mendengar beberapa lagu yang aransemennya tak jauh dari bentuk aslinya. Kehadiran Lilo yang memang cuma tempelan, ironisnya justru mengangkat karisma KLa malam itu. Suka atau tidak, sosok tiga orang itu memang sudah sangat kuat sebagai elemen dasar dari KLa Project. Walhasil, 2 lagu yang menghadirkan Lilo sebagai bintang tamu, buat saya secara emosional justru bisa menghadirkan sosok besar KLa Project malam itu. Atau saya cuma sekedar terjebak dalam semangat romantisme mungkin? Yang jelas, KLa 5enses buat saya lebih merupakan moment temu kangen dengan lagu-lagu KLa. Kebetulan pula malam itu reportoir KLa hampir semuanya terdiri dari lagu-lagu lama.
Sepertinya KLa harus mulai menyadari bahwa dua kutub magnet bernama idealisme dan kapitalisme memang lebih sering tak bisa sejalan. Di titik ini, sepertinya mereka sudah harus menentukan pilihan. Berusa membuat adonan multi gaya rasa (yang menurut saya sama sekali nggak kena dengan jiwa KLa) atau kembali menyuguhkan ala tradisional yang sesuai dengan karakter KLa dahulu. Kalaupun ingin memberi sesuatu yang baru, sebaiknya Katon dan Adi mengubur nama besar KLa Project dan menjadikannya legenda hidup, lalu kemudian membentuk project baru dengan nama baru. KA Project: Katon-Adi Project. Qeqeqeqe...
Another time it might have been so different
oh if only we could do it all again
but now it's just another fading memory
out of focus, though the outline still remains
Far away, away, fading distant lights
leaving us all behind, lost in a changing world
and you know that these are the days of our lives
so remember
Like the story that we wish was never ending
We know sometime we must reach the final page
still we carry on just pretending
that there'll always be one more day to go
(Fading Light by GENESIS)
Di luar itu, ada hal menarik untuk saya renungkan. Sebuah nilai pembelajaran bahwasanya usia memang nggak bisa bohong. Mau bedandan seperti anak jaman sekarang, mau dengerin lagu-lagu masa kini, tetep aja yang namanya karakter nggak bisa diganti. Kalo pun mau dicoba untuk berubah, yang ada malah maksa. Hal ini lah yang terjadi pada konser KLa Senses.
18 tahun berkiprah di industri musik, buah karya seniman yang dahulu remaja ini sudah diakui dan tak perlu pembuktian lagi. KLanis (istilah untuk para penggemar KLa) yang dahulu ranum-ranum kini tak lagi nikmat dikulum. Perjalanan waktu secara otomatis mendewasakan mereka (setidaknya segi usia). Kedewasaan ini tampaknya belum mampu ditangkap oleh KLa. Entah kenapa, saat orang banyak melakukan penyempitan pasar (biar lebih fokus), KLa malah berusaha untuk meng-grab pasar seluas mungkin. Akibatnya KLa kehilangan kesejatian mereka. Dari sebuah grup yang sederhana, lagu yang sederhana dengan lirik yang puitis, KLa seolah mencoba bermetamorfosis menjadi grup yang glamorous (mungkin karena pertimbangan nama besar).
Dari sekitar 18 lagu yang dibawakan (kalo gak salah hitung lho ya), KLa mencoba memberi sentuhan aransemen baru di setengah porsi pertunjukan mereka. Tapi sayangnya, karakter KLa yang sudah kuat terbentuk malah nggak masuk dengan semangat masa kini yang coba diangkat dengan mengandalkan dua personil muda; Harry (drum) & Yul (gitar). Hadirnya dua bintang tamu generasi masa kini (ta'elah istilahnya huahahaha) Andi /rif & Dewi Sandra akhirnya malah seolah-olah jadi daya tarik tersendiri yang justru mengalahkan pamor Katon yang malam itu entah kenapa memilih aksi panggung seatraktif Nugie; adiknya; (haloooow... Katon, u there dude? What the hell were u tryin to do man?).
Adalah merupakan bentuk keindahan malam itu saat mendengar beberapa lagu yang aransemennya tak jauh dari bentuk aslinya. Kehadiran Lilo yang memang cuma tempelan, ironisnya justru mengangkat karisma KLa malam itu. Suka atau tidak, sosok tiga orang itu memang sudah sangat kuat sebagai elemen dasar dari KLa Project. Walhasil, 2 lagu yang menghadirkan Lilo sebagai bintang tamu, buat saya secara emosional justru bisa menghadirkan sosok besar KLa Project malam itu. Atau saya cuma sekedar terjebak dalam semangat romantisme mungkin? Yang jelas, KLa 5enses buat saya lebih merupakan moment temu kangen dengan lagu-lagu KLa. Kebetulan pula malam itu reportoir KLa hampir semuanya terdiri dari lagu-lagu lama.
Sepertinya KLa harus mulai menyadari bahwa dua kutub magnet bernama idealisme dan kapitalisme memang lebih sering tak bisa sejalan. Di titik ini, sepertinya mereka sudah harus menentukan pilihan. Berusa membuat adonan multi gaya rasa (yang menurut saya sama sekali nggak kena dengan jiwa KLa) atau kembali menyuguhkan ala tradisional yang sesuai dengan karakter KLa dahulu. Kalaupun ingin memberi sesuatu yang baru, sebaiknya Katon dan Adi mengubur nama besar KLa Project dan menjadikannya legenda hidup, lalu kemudian membentuk project baru dengan nama baru. KA Project: Katon-Adi Project. Qeqeqeqe...
Another time it might have been so different
oh if only we could do it all again
but now it's just another fading memory
out of focus, though the outline still remains
Far away, away, fading distant lights
leaving us all behind, lost in a changing world
and you know that these are the days of our lives
so remember
Like the story that we wish was never ending
We know sometime we must reach the final page
still we carry on just pretending
that there'll always be one more day to go
(Fading Light by GENESIS)
Friday, March 17, 2006
BernostalgiKLa

Hm... sepertinya nggak ada yang perlu dijelaskan panjang lebar mengenai kekangenan akan salah satu band gaek yang tetap bertahan ini. Lintasan sejarah sejak lagu "Tentang Kita" mulai ditayangkan di TVRI, sampai ke klip-klip video yang berlalu-lalang di stasiun-stasiun swasta.
Setelah 14 Juli 2004 pertunjukan NEW CHAPTER PARTY 'n CONCERT di Grand Manhattan, Hotel Borobudur, Jakarta, bisa dibilang hampir nggak ada lagi konser KLa yang berskala sebesar KLa 5enses ini nanti. Ditambah dukungan darah segar Harry (drum) dan Yul (gitar), project yang sempat mengganti label dengan "NuKLa" ini; 5enses diperkirakan bisa menghadirkan sentuhan baru yang lebih "modern" pada lagu-lagu klasik KLa.
SURPRISE!
Ada kejutan baru juga di konser 5enses ini, yaitu dengan hadirnya mantan gitaris Lilo. Sejak keluar di tahun 2001, baru kali ini KLa reunian bareng Lilo. Kehadiran bintang tamu muda seperti Dewi Sandra dan Andi Rif/ kaya'nya sih nggak bakalan terlalu nendang mengingat karakter lagu-lagu KLa yang sangat kuat nempelnya dengan karakter vokal Katon. Tapi akan jadi beda kalau KLa bisa menampilkan warna baru dalam aransemen musik (katanya Adi sih mereka mau nampilin warna baru).
Apapun itu, dibalik keraguan KLanis akan warna baru KLa nanti, KLa tetaplah sebuah project yang layak untuk dinikmati sebagai nostalgia kehidupan. Pasti banyak dari kita yang punya lagu-lagu KLa spesial (biasanya sih berkaitan sama kejadian khusus, entah baru jadian, jalan bareng saat masih pada bujangan, whatever deh) yang bisa dinikmati pada konser 5enses ini. Hm... seandainya Adi dan Siska bisa ikutan, tentunya ini bisa jadi konser reunian yang seru. Atau mereka memang dijadwalkan muncul juga? Entah lah... kita tunggu aja nanti.
Tuesday, December 14, 2004
Creative Leaps - The book you must have!
Ini buku gila banget. Semua orang2 yang bekerja di industri periklanan (agency & client) harus baca buku ini! Jangan tertipu ama judulnya. Kesannya buku untuk orang creative ya? Padahal isi buku ini penting banget buat client service, media dan client.
One Word Brief
Ini salah satu chapter kesenangan gw. Hoy para mahluk2 berbaju necis dalam agency, lu semua kudu baca!!! Biar tauk brief yang proper tuh gimana. Sori kalo agak keras, habis gw cape. Sering banget ketemu client service yang lebih berfungsi sebagai client's servant. Client brief nggak diolah dulu, tapi langsung dijadiin creative brief. Halloooo... which side of earth are you living in? Kondisi ini menyebabkan banyaknya Account Director yang keahliannya cuma maintain/entertain client. Gila kali. But that's the fact. Gw sih bukannya mencari kambing hitam. Gw sendiri juga sering menghasilkan creative output yang kurang stand out. But you know why? Simply because I have to spent most of my time trying to find "what to say" which is not supposed to be my main job!
Make Lovemark, not trademark
Hari gini, iklan gak cukup dengan jadi ngetop... jadi bahan pembicaraan semua orang. Tapi iklan harus jadi trend-setting! Be different! Itu kuncinya. Get out from the cluttered. Make an advertisement that will be loved by people. Once stick to their heart, you'll win the market. Everyone is impulsive buyer. We tend to buy things that we like/love instead of need. Asik kan... hehehehe...
Well... sebenernya masih banyak ilmu-ilmu lain yang bisa didapat. Tapi mending baca ndiri deh. Seru banget bacanya. Have a pleasant reading then...
22 Irrefutable Laws of Advertising
Gilaaaa akhirnya kelar juga bacanya. 6 bulan 1 minggu! Hehehehe... gw emang kalo baca buku berbahasa Inggris nggak bisa cepet. Harus bener2 mengerti ama topik yg dibahas. Kalo nggak, ya gw ulang2 terus ampe ngerti. Selain itu gw juga nyambi baca buku lainnya :D ancur yak. But it's fun. Saat bosen dg satu bacaan gw baca yg lain dulu sebentaran. Refreshing aja.
So...
Satu sisi penting yang gw tarik dari 22 penulis itu adalah passion mereka dalam dunia kerja. Semua hukum dihasilkan dari pengalaman yang didapat dari kehidupan sehari-hari. Bisa dibilang kalo semua orang bisa bikin hukum mengenai iklan. Pelajari aja pola berpikir kita, temukan apa yang paling menarik buat kita, gimana cara kita menyeleseikan permasalahan... itu bisa jadi hukum. Setidaknya buat kita sendiri.
Tapi permasalahannya memang nggak sedangkal itu. Untuk bisa bikin hukum yang "tak terbantahkan" (irrefutable) kita harus bener-bener ngerti dulu semua seluk beluk proses berpikir kreatif. Itu cuma bisa didapat dari ketekunan dan kerja keras. Satu hal yang selama ini selalu gw abaikan. Kenapa? Karena gw cepat puas. Saat bisa menjawab suatu permasalahan, gw merasa itu sudah cukup. Padahal kreatifitas adalah infinity. Tak terbatas. Gw selalu memberikan justifikasi "Kalo diikutin, nggak habis-habis dong.." hehehehe... what a cliche huh?.
Well... setidaknya nilai 250 ribu perak yang gw keluarkan gak sia-sia. Semoga gw bisa terus mempertahankan passion gw dalam bekerja. Gw masih menyimpan cita-cita untuk menang di Cannes/Clio/AdFest/AD&D. "Doakan saya ya..." (diucapkan seperti intonasi peserta Takeshi Castle).



