Pages

Tuesday, September 23, 2008

Si Congor

Teman saya ini memang paling-paling. Mulutnya comel banget. Kalau ada kekurangan yang dia lihat di orang lain, pasti jadi bahan celaan. Udah gitu kalo ngomong suaranya sengaja digede-gedein pula. Sudah dari jaman SMA kelakuannya nggak berubah. Pantes aja kalau teman-teman yang dekat dengan dia menggelari dia Si Congor.

Wait... wait, orang beginian punya teman dekat? Lho nggak usah heran. Kepribadian manusia itu nggak homogen kok. Dibalik kekurangannya, Si Congor sering nolong temen yang kesusahan. Sering membantu tanpa diminta. Cuma ya itu aja, kalau ada orang yang nggak beres, congornya nggak bisa mingkem.

Dulu pernah seorang dosen pengganti mengajar mata kuliah Public Speaking. Penampilan si dosen tamu ini emang kurang representatif sih. Sebagai pengajar Public Speaking yang notabene pasti harusnya sadar akan pentingnya penampilan demi menjaga kredibilitas, cara berpakaian dia emang gak matching. Belum lagi kalau bicara, logat Tegalnya nggak bisa lepas. So, jadilah dia bahan celaan Si Congor. Saya dan beberapa teman sampai nggak tega dengernya. Meskipun ikutan ketawa waktu lihat Si Congor niruin persis gaya dosen tersebut.

Tapi ada satu hal yang saya salut dari Si Congor ini. Pacarnya dari jaman SMA cuma satu dan nggak pernah selingkuh. Hebat ya dia. (Lebih hebat lagi sih ceweknya yang kuat tahan segitu lama ama dia hehehe). Cuma nggak nahannya, mentang-mentang belom pernah nikung kanan-kiri, Congor suaranya langsung menggelegar tiap ngomongin orang yang doyan main api. AD presiden republik Cinta, AA wakil rakyat yang suami penyanyi dangdut, bahkan sampai teman sekantor nggak luput dari curahan liurnya karena ketahuan jalan sama pria lain yang bukan suaminya.

Congor ini sering banget bangga-banggain hubungannya yang udah berjalan belasan tahun dengan pacar pertama yang kemudian jadi istrinya. Kalau udah ngomongin keluarga, ketahuan banget deh kalau buat dia, istrinya nggak akan tergantikan.

Suatu kesempatan, kita harus berhubungan dengan auditor yang disewa dari luar. Karena bertanggung jawab urusan finansial perusahaan, mau tak mau Si Congor harus meluangkan waktu banyak dengan si Mbak auditor yang penampilannya kinclong menawan itu. Kulit putih terawat, rambut lurus teratur, wangi, pokoknya tiap dia lewat, semua cowok-cowok sekantor pada rame besuit-suit.

Tapi nggak buat Si Congor. Dia selalu bilang, ini urusan profesi. Urusan bisnis. Dan dia nggak akan tergoda buat menghianati istrinya. Sampai suatu saat, saya nggak sengaja lihat melalui pintu ruangannya Si Congor nggak tertutup rapat. Di dalam, Si Congor tampak mengelus-elus punggung tangan Si Mbak sambil matanya menatap lekat ke arah Si Mbak yang tertunduk malu.

Hahahahahahaha.... saya tertawa dalam hati dan kembali ke meja saya. Ternyata 3 dari 3 laki-laki itu PERNAH berselingkuh.

Setidaknya itu yang saya percayai sekarang.

1 comment:

LaĆ­s Mandara said...

Hello I am Brazilian and I am going through here to tell you that your blog is pretty ...
I hope that in my back. Oh, excuse me by the Portuguese bad kisses!