Pages

Saturday, February 26, 2005

Nak, maafkan bapak!

Mungkin cuma itu yang bisa saya katakan saat anak-anak saya dicecar pertanyaan "Emang di rumah nggak diajarin shalat?". Saya memang tak pernah punya rasional yang kuat atas pertanyaan seperti itu. Sama dengan diamnya saya saat teman-teman bertanya "Kok lu nggak shalat sih?".

Mungkin alam pikiran saya berbeda dengan pandangan dan pemahaman kolektif masyarakat. Pemahaman saya pun mungkin bisa dianggap sebagai "kekufuran". Alasan saya belum (belum lho, bukan tidak) mau mengajarkan shalat semata-mata karena saya ingin merubah interpretasi anak-anak saya terhadap esensi keberagamaan.

Dari dulu saya selalu dicekoki oleh paradigma bahwa orang yang saleh itu adalah mereka yang taat menjalankan perintah Allah. Bahwa mereka yang ingkar padaNya akan mendapat siksa. Akhirnya Allah menjadi sosok yang begitu menakutkan. Semua beribadah karena tidak mau masuk neraka. Sebuah pemahaman yang justru menjauhkan manusia dari indahnya kemaha-cintaan Allah terhadap manusia.

"Takut jangan sama setan, tapi sama Allah!". Entah sudah berapa ribu kali saya mendengar statement itu. Saya bosan! Saya jenuh! Saya capek! Saya tak mau anak-anak saya terjebak dengan semua perasaan negatif yang pernah saya rasakan. Saya mau anak-anak saya mencintai Tuhannya. Itu sebabnya saya lebih suka mengajarkan dan memberi contoh pada mereka, bagaimana menjalani hidup ini dalam ke-Islam-an. Bukan sebagai penganut agama Islam.

Saya lebih suka melihat anak-anak saya nantinya mampu mengikhlaskan sebagian besar rizki mereka untuk membantu kaum duafa (kaum yang kurang mampu; red.) ketimbang mereka taat beribadah dan hanya menyisihkan 2,5% dari harta yang dititipkan Allah pada mereka. Saya mau mereka sadar sepenuhnya bahwa apa pun yang mereka dapatkan semata-mata adalah amanah, bukan pemberian untuk dimiliki. Saya mau mereka mencintai sesamanya karena mereka sadar bahwa setiap manusia adalah pembawa ruhNya yang ditiupkan saat kita semua masih berupa jabang bayi berusia 120 hari. Saya mau mereka mengerjakan ibadah karena semata-mata atas dasar kecintaan padaNya dan bukan ketakutan. Saya mau mereka begini, begitu, begene, begono.

"Gila lu Cin. Lu mau anak lu jadi apa?". Hehehehe... sebuah pertanyaan tolol. Karena orang tua tidak punya hak atas anak mereka! Anak sama statusnya dengan orang tua: mahluk. Semuanya sudah diatur.

"Sebuah pandangan pesimis tuh, jadi menurut lu manusia nggak perlu berikhtiar dan berusaha?". Lho... memangnya saya pernah bilang begitu? Apakah usaha untuk mencintai sang Maha Pencipta bukan usaha? Apakah berusaha untuk menyatukan keinginan manusia dengan keinginanNya bukan usaha?

"Mau jadi apa agama Islam nantinya kalau semua orang seperti elo Cin?". Entah lah. Siapa yang tahu? Apakah jika suatu saat orang tidak lagi melakukan ibadah tapi ternyata berhenti melakukan kemaksiatan merupakan hal yang buruk? Apakah jika satu saat orang mencintai sesama sebesar cinta pada diri sendiri itu kemunduran?

Saya tidak pernah mengatakan hukum dan aturan agama itu adalah hal yang buruk. Bagaimana bisa saya bilang itu buruk sementara yang menetapkan aturan itu adalah Dia sang Maha Pengatur? Saya cuma berusaha mencari makna lebih jauh dari aturan-aturan keberagamaan itu. Saya pernah mengalami shalat tarawih sendirian dimana tidak ada satu rakaat pun lewat tanpa tetesan air mata penyesalan atas segala kesalahan, khilaf dan dosa yang saya lakukan. Tapi setelah shalat itu selesai, begitu pula pikiran saya akan kehidupan setelah hidup ini. Saya kembali terperangkan dalam dimensi semu bernama kehidupan duniawi. Tapi kenapa setelah tetek bengek ritual itu saya hindari, saya merasa jadi lebih dekat denganNya? Kufur kah saya?

Sebelum Anda memberikan judgement menjawab pertanyaan di atas, saya cuma mau membawa Anda ke tatanan logika. Innallaha wa'malaaikatahu yushollunna ala'nnabiih kurang lebih artinya (menurut terjemahan di Qur'an) adalah sebagai berikut: Sesungguhnya Allah beserta malaikat bershalawat kepada nabi (Rasulullah SAW). Wait... wait... emang ada kata shalawat di situ? Shollu... sholli... itu adalah bentuk kata kerja lain dari shalat. Kenapa diterjemahkan sebagai shalawat? Apa karena kita takut menganggap Allah menyembah Rasul (dengan asumsi shalat itu adalah seperti apa yang diyakin oleh awam)? Apa tidak mungkin bahwa shalat itu memiliki bentuk lain diluar takbir, ruku', sujud, tahiyat? Rasul memang pernah berkata "Shalat lah engkau seperti aku shalat". Apa iya... saat berkata seperti itu, terminologi yang digunakan rasul adalah shalat berupa ritual berdiri-jongkok-sujud? Terus seperti apa shalat itu? Wallahu alam bissawab.

Keterangan dalam Qur'an terbagi dalam dua jenis. Ada yang jelas maknanya, ada yang kabur. Untuk yang jelas maknanya, gunakan akal. Untuk yang kabur, gunakan rasa. Saya memilih menggunakan rasa. Murtadkah saya? Kafirkah saya? Yang jelas sahabat terpercaya Rasul, syaidina Ali, pernah berkata "Ada 3 kantung ilmu yang Rasulullah titipkan padaku. Hanya 2 kantung yang aku buka, jika satu kantung tertutup itu aku buka maka halallah darahku". Maksudnya apa? Mboh... kita semua kan sudah dewasa. Pasti bisa mereka-reka, menduga-duga, menganalisa dan berkesimpulan secara sendiri-sendiri.

Mungkin ada baiknya saya tidak cuma meminta maaf pada anak-anak saya, tapi juga pada kalian semua sahabat dan saudara-saudaraku. "Maafkan saya...".

Itu saja.

No comments: