Pages

Monday, August 27, 2012

Makna Puasa


Lebaran telah usai. Banyak hal yang terkait dengan hari yang sering dimaknai sebagai Hari Kemenangan tersebut. Mulai dari keharuan sampai kebahagiaan. Apa pun itu, semua bermuara pada satu hal. Kerinduan dan harapan untuk bisa bertemu dengan lebaran yang akan datang.

Mengenai puasa; ini adalah aktivitas 30-hari-an yang harus dilalui oleh hampir sebagian besar umat muslim. Intinya sederhana saja. Menahan hawa nafsu dari subuh hingga magrib. Hawa nafsu untuk makan, minum, merokok, mengumpat, marah, berkata kasar, mencaci-maki, berbuat ketidak-senonohan, hingga berbuat yang enak-enak. (Untuk beberapa orang, tentunya sangat paham dengan apa yang saya maksud di bagian terakhir tadi hehehe).


Salah satu poin yang sejak lama diajarkan oleh para tetua kita adalah, puasa itu mengajarkan kita untuk bisa merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang kurang mampu. Hidup mereka yang serba berketidak-cukupan seringkali memaksa mereka untuk makan minum seadanya, bahkan tak jarang, tidak makan.

Hal ini cukup saya percayai sebagai salah satu hal yang bisa diteladani dari ibadah puasa. Namun kemudian timbul pertanyaan. Jika demikian, apakah makna puasa bagi mereka yang kurang mampu itu? Ketika keterbatasan atas segala akses kebutuhan primer merupakan realita sepanjang hari, sepanjang umur mereka. Apa sejatinya makna puasa bagi mereka? Soal melatih kesabaran, saya rasa malah mereka sudah khatam. Strata rendah dalam kehidupan membuat mereka terbiasa hidup dalam ketidak-adilan. Dilecehkan, diacuhkan, di-tak-pedulikan, terpinggirkan, adalah hal-hal yang bukan lagi bisa mereka keluhkan. Mereka terbiasa; atau diterbiasakan; dengan kondisi itu.

Lantas, kira-kira apa ya makna puasa bagi mereka?


Selamat Idul Fitri 1433 H semuanya. Semoga berkah dan rahmah YME senantiasa bersama kita.

3 comments:

rental mobil murah said...

benar banget tuh.. harus menahan diri dari segala nafsu..

iklan baris tanpa daftar said...

semoga saja masalah nafsu untuk anak muda yang berpacaran tidak dilakukan saat berpuasa tahun depan..

budi santoso said...

mungkin itu sebabnya kenapa melawan nafsu disebut sebagai perang yang lebih besar yah