Pages

Thursday, March 20, 2008

Gadis Di Gerbong Kereta Itu Bernama Yani



Siang itu, perjalanan dari Kota menuju Tebet, saya memutuskan untuk naik kereta api. Pertimbangannya jelas, lebih ekonomis, nyaman (pakai AC) dan bebas macet (sebuah masalah klasik yang tetap saja selalu bikin sakit kepala saat harus terjebak di tengah-tengahnya).
Ternyata nasib berkehendak lain. Kereta AC yang tiketnya sudah saya beli, baru akan datang 45 menit lagi. Saya nggak punya kemewahan untuk membuang waktu menunggu selama itu. Saya pun memilih naik kereta yang sudah siap berangkat, kelas ekonomi non-AC.

Selama perjalanan, duduk di seberang saya, arah jam 2, seorang bapak dengan anaknya. Pita penjepit rambut yang tersemat di kepalanya jelas menunjukkan ia seorang anak perempuan.
Sepanjang perjalanan, anak itu tetap terlihat begitu menikmati pemandangan lewat pintu gerbong yang selalu menganga lebar. Saat seorang penjaja jeruk lewat, anak itu meminta bapaknya untuk membeli satu buah. Sang bapak memilih, membayar dan lantas memberikan jeruk pada anaknya. Senyum lebar sang anak jelas menunjukkan kebahagiaannya. Dikupasnya jeruk itu dan dinikmatinya gigitan demi gigitan.

Tidak ada yang istimewa memang dari scene tersebut. Adalah lumrah jika seorang bapak sayang pada anaknya. Yang membuat moment itu jadi istimewa adalah saat saya memberanikan diri berbincang dengan bapak tersebut.

Suhandi
nama bapak itu. Putri tercintanya bernama Yani, 7 tahun. Pada umur 4 tahun, sebuah benjolan kecil tumbuh di wajah Yani. Benjolan itu membesar hingga seperti sekarang. 6 bulan lalu, pak Suhandi memeriksakan Yani ke RS Cipto. Berkat fasilitas Askeskin, dia tak harus terbebani biaya pengobatan. Tapi kenyataan pahit harus dia hadapi. Menurut analisa dokter, jika tindakan operasi dilakukan, bisa membawa kebutaan total bagi Yani. Bagai makan buah simalakama, pak Suhandi pun tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Percakapan terhenti karena kereta telah berhenti di setasiun tujuan saya. Dengan meminta ijin terlebih dahulu, saya bergegas memotret Yani dan bapaknya.

Dalam mikrolet, sebuah pikiran negatif melintas dalam kepala saya, "Mungkinkah diagnosa dokter itu ala kadarnya karena faktor ketidakmampuan pak Suhandi menanggung biaya pengobatan?". Ah entah lah, lebih baik berpikiran positif dengan menganggap bahwa dokter itu telah melakukan pertolongan semaksimal yang dia mampu.

Saya lantas berandai-andai, "Mungkin nggak kalau ada pihak yang mau mendanai pemeriksaan Yani secara lebih layak? Bisakah hasil diagnosa dokter yang dibayar sesuai rate normal bisa memberi kemungkinan yang lebih baik?"

Oh ya, saya masih belum menceritakan hal yang membuat peristiwa di gerbong tadi jadi begitu istimewa buat saya. Sederhana sekali. Kebahagiaan pak Suhandi berjalan-jalan dengan putrinya begitu wajar. Kondisi yang dihadapi Yani tidak membuat pak Suhandi seakan minta dikasihani. Mereka pun tak peduli dengan tatapan penuh kasihan beberapa orang dalam gerbong itu saat melihat Yani.

Aaah begitu menyejukkan. Kebahagiaan memang hanya masalah mindset. Itu pilihan dan kita sendiri yang menentukan. Terima kasih pak Suhandi dan Yani, atas makna berharga yang bahkan kalian sendiri tidak sadar telah mengajarkannya pada orang lain.


PS
Jika ada yang bisa membantu, pak Suhandi bisa dihubungi di alamat berikut:
Pondok Gede/Pondok Melati
Gg. Sasak Jikin No.9
RT02 RW05
Atau bisa dihubungi lewat telepon adik iparnya, Riswandi di nomor 9889-7848

No comments: