Sebuah acara, di salah satu setasiun televisi swasta, menayangkan liputan mengenai sebuah milis yang berbendera jaman. Menarik (setidaknya buat saya) karena milis ini beranggotakan mereka yang tumbuh besar di jaman yang sama dengan saya. Rasanya lucu aja bisa melihat kembali orang-orang dewasa (belum tua lho...) memainkan permainan yang lagi nge-trend saat itu tapi kali ini bersama anak mereka.
Dua bintang tamu yang diambil dari pengurus milis dengan penuh antusias dan semangat nyeritain serunya moment-moment pas kopi-darat. Ngobrol tentang musik, film, gaya pakaian... apa pun lah. Pokoknya segala hal yang menjadi sahabat keseharian mereka. Bernostalgia memang selalu menyenangkan.
Lalu, biasa lah... dibuka kesempatan untuk penonton menelepon ke studio. Antusias penelepon nggak kalah seru. Ada yang mampu kembali mengangkat sebuah trend sesaat masa itu. Begitu singkatnya life-cycle trend itu, sampai-sampai saya yakin nggak banyak yang mampu mengingatnya. Hingga satu kejadian yang cukup bikin saya ill-feel. Seorang penelepon bercerita dengan penuh semangat mengenai kenangan di masa tersebut. Tapiiii waktu ditanya sama presenter, apa yang menurut dia menarik dari masa-masa tersebut, jawabannya bikin saya menciut.
"Semuanya menarik. Musiknya lebih seru kalau dibanding musik-musik sekarang....bla bla bla". Des! Tiba-tiba antusiasme saya meredup, penjelasan dia berikutnya bikin saya nggak minat lagi mendengar celotehnya.
"Musik dulu lebih seru..." hm... sampai di sini oke lah. Tapi lanjutannya itu lho "...dibanding musik-musik sekarang...", duh... kok ya bisa sampai segitunya. Ingatanpun bergulir pada suatu peristiwa antara saya dan ibu saya. Saat itu saya sedang nonton video dokumentasi band kami yang lagi manggung di sebuah acara kecil-kecilan. Buat saya, saat itu penampilan kami sudah cukup optimal. Latihan serius hingga beberapa kali. Crowd juga cukup terhibur. Sebagai anak tentu saja ada harapan bahwa ibu saya akan memberi compliment atas penampilan anaknya. Tapi komentar ibu saya adalah "Lagu kaya' gitu kok dimainin...". Terus terang saat itu saya cukup miris mendengarnya. Ibu saya nggak suka penampilan anaknya cuma karena jenis lagunya nggak masuk dengan selera dia.
Kembali pada komentar si penelepon yang membanding-bandingkan tadi, saya lalu berpikir, apa iya orang harus terjebak dalam era keemasannya masing-masing? Apa iya era kita akan selalu jadi lebih baik dibanding dengan era anak-anak kita nanti?
Hm... anyway, hak si penelepon lah untuk bicara seperti itu. Fridem of ekspresyen yu now. Buat saya sendiri, moga-moga anak saya nggak perlu ngerasain hal seperti apa yang saya alami. Sementara ini, saya selalu berusaha (sangat keras) untuk bisa menerima hal-hal baru sambil tetap menikmati masa-masa dulu. Seperti rencana nonton Helloween besok malam, kedengarannya menjadi hal yang menarik. Setidaknya jauh lebih menarik dari pernyataan "Musik dulu lebih bagus dari musik sekarang".
Milis yang saya ceritakan di atas punya blog juga lho. Klik aja di sini.